Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengaku belum mengetahui perkembangan terkini secara konkret dampak dari gempa bumi magnitudo 7,6 yang mengguncang Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut) pada Kamis (2/4/2026), ke klaim asuransi.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan menuturkan, pihaknya akan menunggu kajian dari PT Reasuransi Maipark Indonesia berkenaan pemetaan risiko dari gempa tersebut.
“Saya juga masih nunggu dari teman-teman Maipark nanti kajian daripada modeling itu, sejauh mana sih dia punya magnitude itu bisa merusak objek-objek yang ada di sekitar situ,” katanya kepada wartawan di Kantor AAUI, Jakarta, dikutip Sabtu (4/4/2026).
Menurut Budi, kajian dari Maipark tersebut menjadi penting untuk mengetahui apakah objek-objek yang terkena gempa itu diasuransikan atau tidak.
“Karena ya kembali tadi jadi apakah itu mengelilingi objek yang objek insured atau enggak kan kita belum tahu, tapi sudah ada warning bahwa itu berpotensi tsunami,” ucapnya.
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah laut di tenggara Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada Kamis, (2/4/2026) pukul 05.48 WIB. Pusat gempa berada pada koordinat 1,25 LU dan 126,25 BT dengan kedalaman 62 kilometer.
Baca Juga
- 41 Bangunan di Bitung Rusak Akibat Gempa, Pemerintah Segera Kerahkan Bantuan
- Operasional PLTP Lahendong Tetap Normal usai Gempa Magnitudo 7,3 di Sulawesi Utara
- Komdigi: Jaringan Telekomunikasi Sulut Pulih 100% Kurang dari 24 Jam Pascagempa
Dalam catatan Bisnis, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini tsunami akibat gempa yang terjadi di perairan Bitung, Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi menjelaskan bahwa dari gempa tersebut terdapat potensi gelombang tsunami di wilayah Kota Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung.
BMKG pun telah mencatat bahwa gelombang tsunami telah terjadi di tiga wilayah. Tsunami setinggi 0,3 meter terjadi di Halmahera Barat. Kemudian, tsunami 0,2 meter terjadi di Bitung dan tsunami 0,75 meter terjadi di Minahasa Utara.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal, akibat adanya aktivitas deformasi kerak bumi,” kata Teuku Faisal dalam konferensi pers pada Kamis (2/4/2026).





