Waspada El Nino Ekstrem, Ini Dampak Kesehatan yang Perlu Diantisipasi

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Indonesia tengah menghadapi ancaman peralihan cuaca ekstrem. Fenomena El Nino dipastikan akan membawa perubahan suhu dan iklim yang signifikan di tengah masyarakat.

Praktisi Kesehatan Masyarakat, dr. Ngabila Salama menjelaskan bahwa El Nino identik dengan kondisi cuaca panas dan kemarau ekstrem, berbanding terbalik dengan La Nina yang memicu hujan dan suhu lebih dingin.

Menurutnya, kondisi panas terik ini tidak bisa dianggap remeh karena berpotensi memicu berbagai masalah lingkungan dan kesehatan.

“Masalah kesehatan yang bisa muncul (dari) kebakaran hutan, polusi udara, angin kering, menyebabkan mukosa saluran nafas kering jadi lebih rentan batuk, pilek, ISPA, pneumonia, asma, alergi," kata Ngabila, Sabtu (4/4).

Ia menjelaskan, udara kering dapat membuat mukosa saluran napas menjadi kering sehingga tubuh lebih rentan mengalami batuk, pilek, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, asma, hingga alergi.

Tak hanya itu, paparan panas ekstrem juga dapat memicu stres panas yang berdampak pada sistem sirkulasi, terutama bagi penderita penyakit kronis. Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah dehidrasi, diare akibat berkurangnya sumber air bersih, heat exhaustion, heat stroke, hingga kematian.

Di sisi lain, kemarau panjang juga berpotensi menyebabkan kekeringan yang berdampak langsung pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

"Stress panas bisa mengganggu sirkulasi pembuluh darah untuk komorbid penyakit kronis, diare karena sumber air bersih berkurang, dehidrasi, heat exhaustion, heat stroke, sampai kematian," jelasnya.

Untuk itu, dr. Ngabila mengingatkan pentingnya langkah antisipasi sejak dini. Masyarakat disarankan menggunakan masker untuk menjaga kelembapan saluran napas sekaligus melindungi diri dari paparan polusi udara, khususnya partikel berbahaya seperti PM 2.5.

Selain itu, masyarakat juga diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama pada pukul 10.00 hingga 15.00 saat paparan panas berada di puncaknya.

"Minum sebelum haus, minum 3-4 L per hari, hindari diuresis jadi kurangi minum teh dan kopi, rajin cuci tangan, vaksinasi flu, pneumonia, typhoid, pakai pakaian cerah, pakai topi atau payung, kacamata hitam, sunscreen, alas kaki di jam 10.00-15.00," tutupnya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Niño berkategori lemah akan mulai muncul pada semester kedua tahun ini, sekitar Juli 2026. Dampaknya, curah hujan cenderung menurun, sementara suhu udara meningkat.

BMKG mengingatkan, kondisi ini berpotensi memperkuat musim kemarau 2026 yang sebelumnya juga diprediksi datang lebih awal dari biasanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pakai Baret Biru, SBY Hadiri Persemayaman 3 Prajurit UNIFIL RI
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
WHO serukan dukungan mendesak bagi sistem kesehatan di negara-negara terdampak konflik Timur Tengah
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon Tiba di Bandara Soetta
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
BNPB Laporkan 2.839 Warga Mengungsi Akibat Banjir Demak yang Dipicu Tanggul Jebol
• 9 jam lalupantau.com
thumb
Revitalisasi Museum Cipari Diresmikan, Fadli Zon Dorong Transformasi Besar Permuseuman Indonesia
• 1 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.