Penulis: Ibnu Mubarak
TVRINews, Banjarbaru
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Kalimantan Selatan akan mengalami musim kemarau panjang pada tahun ini dengan durasi mencapai tujuh hingga delapan bulan.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kekeringan ekstrem serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Mengantisipasi dampak tersebut, Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor mendorong pemerintah daerah untuk segera melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) secara intensif sejak dini.
Kepala Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Ota Welly Jenni Thalo, menegaskan bahwa langkah OMC perlu dilakukan sebelum memasuki puncak musim kemarau. Hal ini penting agar proses penyemaian garam dapat berjalan optimal dengan dukungan ketersediaan awan hujan.
“Untuk mengantisipasi, sebaiknya dilakukan sejak sekarang sebelum memasuki puncak musim kemarau, guna menambah debit air sungai. Sebab, nanti debit air diprediksi akan berkurang. Selain itu, upaya water bombing juga akan bergantung pada ketersediaan sumber air. Jika terlambat, OMC akan sulit dilakukan karena tidak terbentuk awan hujan,” ucap Jenni Thalo.
Selain itu, sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan yang didominasi lahan rawa diperkirakan menjadi titik rawan terjadinya karhutla saat musim kemarau berlangsung.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan dapat memperkuat koordinasi serta meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini guna meminimalkan potensi bencana, baik kekeringan maupun kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Editor: Redaksi TVRINews





