Konflik antara Amerika dan Iran dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya menjadi isu geopolitik internasional. Peristiwa tersebut juga memperlihatkan satu hal yang menarik untuk direnungkan oleh banyak negara, termasuk Indonesia: bagaimana masyarakat bereaksi ketika negaranya menghadapi tekanan dari luar atau bahkan serangan dari negara agresor.
Pada awal meningkatnya ketegangan, Presiden Trump sempat menyampaikan pernyataan yang ditujukan kepada warga Iran. Dalam narasi tersebut, tersirat ajakan agar masyarakat Iran menyerah dan akan diberikan imunitas, demi masa depan yang lebih baik.
Sebagian pihak menafsirkan bahwa tawaran semacam itu dapat dimaknai luas, termasuk kemungkinan jaminan keamanan atau bentuk perlindungan tertentu bagi pihak-pihak yang bersedia bekerja sama.
Dalam strategi konflik modern, pendekatan seperti ini bukan hal baru. Negara agresor tidak hanya menekan pemerintah lawan, tetapi juga mencoba memengaruhi psikologi masyarakatnya. Harapannya, dukungan publik terhadap negara sendiri akan melemah, sehingga tekanan terhadap pemerintah menjadi lebih besar dari dalam.
Namun yang menarik, realitas di lapangan justru menunjukkan gambaran yang tidak sepenuhnya sejalan dengan asumsi tersebut. Salah satu rekaman video yang sempat beredar memperlihatkan wawancara seorang reporter dengan warga Iran yang sedang mengikuti pawai hari Quds di Iran.
Di tengah percakapan, situasi berubah tegang ketika sebuah serangan udara meledak di sekitar lokasi. Bukan panik dan menyelamatkan diri. Namun, terlihat dalam video, peserta pawai justru tetap berada di lokasi dan bahkan semakin lantang meneriakkan dukungan terhadap negaranya. Fenomena ini menurut saya adalah bentuk nasionalisme yang sangat kuat.
Gambaran lain juga datang dari pengalaman warga negara Indonesia yang sempat berada di Iran dan kemudian kembali ke tanah air. Dalam wawancara media ketika mereka tiba di tanah air, ada WNI yang menyampaikan bahwa kehidupan masyarakat di sana tetap berjalan relatif normal.
Salah satu pernyataan yang cukup menarik adalah bahwa “toko-toko dan warung tetap buka sampai malam”. Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi saya ini adalah simbol bagaimana negara dan masyarakat berusaha mempertahankan kestabilan kehidupan sehari-hari di tengah situasi yang tidak mudah.
Pengalaman tersebut kemudian memunculkan refleksi yang relevan bagi Indonesia. Indonesia tentu berada dalam situasi yang berbeda dengan Iran. Negara ini tidak sedang menghadapi konflik militer dengan negara lain. Namun dalam beberapa tahun terakhir, dinamika sosial dan politik di dalam negeri memperlihatkan adanya tantangan dalam hubungan antara masyarakat dan negara.
Berbagai demonstrasi besar pernah terjadi sebagai respons terhadap kebijakan pemerintah maupun pernyataan oknum pejabat negara yang dianggap melukai perasaan publik. Saya meyakini bahwa demonstrasi merupakan bagian dari demokrasi yang sehat. Kritik terhadap pemerintah adalah hak masyarakat dalam sistem politik terbuka.
Namun dalam beberapa peristiwa, aksi tersebut malah berujung pada kerusuhan dan penjarahan. Ketika protes berubah menjadi tindakan destruktif, muncul pertanyaan yang lebih dalam tentang bagaimana masyarakat memandang negara dan institusinya.
Di sisi lain, ruang digital di Indonesia juga memperlihatkan gejala yang menarik. Tagar seperti #kaburajadulu sempat ramai diperbincangkan dan menggambarkan adanya kegelisahan sebagian masyarakat terhadap masa depan di dalam negeri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ada kelompok masyarakat yang mulai mempertimbangkan kehidupan di luar Indonesia sebagai pilihan yang lebih baik. Belum lagi muncul pernyataan oknum penerima beasiswa LPDP yang dinilai merendahkan Indonesia dan mengagungkan negara lain.
Apakah semua ini berarti nasionalisme masyarakat Indonesia sedang melemah?
Pertanyaan tersebut mungkin tidak memiliki jawaban yang sederhana. Nasionalisme dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain termasuk kondisi ekonomi, kepercayaan terhadap pemerintah, keadilan sosial, dan harapan masyarakat terhadap masa depan.
Dalam banyak kasus, nasionalisme justru tumbuh ketika kebijakan pemerintah dianggap adil dan berpihak pada kepentingan rakyat. Rasa memiliki terhadap negara biasanya akan menguat dengan sendirinya. Sebaliknya, ketika kepercayaan terhadap negara menurun, hubungan emosional antara masyarakat dan negara juga dapat ikut terpengaruh.
Karena itu, refleksi dari situasi Iran menjadi menarik untuk dipikirkan, bukan untuk membandingkan secara berlebihan, melainkan sebagai bahan renungan. Ketika sebuah negara menghadapi tekanan dari negara agresor, solidaritas masyarakatnya justru terlihat semakin kuat.
Muncul pertanyaan kemudian: Jika suatu saat Indonesia menghadapi ujian yang serupa, dan negara agresor justru malah menawarkan “imunitas”, apakah masyarakat kita akan menunjukkan solidaritas yang sama? Atau malah akan berbondong-bondong menyerah dan menyerahkan pejabat-pejabatnya ke negara agresor?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin bergantung pada kondisi hubungan antara negara dan rakyat hari ini.
Di sinilah peran pemerintah menjadi sangat penting. Membangun kembali kepercayaan publik bukan hanya soal kebijakan ekonomi atau politik, melainkan juga soal komunikasi, keadilan, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat luas.
Nasionalisme tidak bisa dipaksakan melalui retorika semata. Ia tumbuh dari rasa percaya bahwa negara benar-benar menjadi rumah bersama bagi seluruh warganya. Jika kepercayaan itu terjaga, nasionalisme Indonesia tidak akan hilang. Sebaliknya, ia akan tetap hidup, bahkan ketika suatu saat diuji oleh keadaan yang paling sulit sekalipun.





