Rusia menyatakan tidak akan memasok minyak ke negara-negara yang mendukung kebijakan pembatasan harga. Ini menjadi respons keras Moskow terhadap tekanan Barat yang dianggap merusak mekanisme pasar.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrey Rudenko mengatakan kebijakan pembatasan harga sebagai tindakan anti-pasar yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global. “Rusia tidak akan memasok minyak ke negara-negara yang mendukung skema provokatif ini," kata dia dalam wawancara dengan harian Rusia Izvestia, dikutip dari Anadolu Ajansi, Selasa (31/3).
Rudenko juga menyinggung negara-negara yang tetap berkomitmen pada kebijakan tersebut, termasuk Jepang yang dinilai mengikuti skema pembatasan harga minyak Rusia.
Kebijakan pembatasan harga minyak Rusia diberlakukan oleh kelompok G7 sejak Desember 2022. Skema ini dirancang untuk menekan pendapatan energi Rusia tanpa mengganggu pasokan minyak global, dengan cara membatasi layanan pengiriman bagi minyak yang dijual di atas harga tertentu.
Namun perang AS dan Israel dengan Iran sejak 28 Februari membuat harga terus melonjak. Belum lagi, Iran melakukan pembalasan dengan menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur krusial untuk membawa seperlima pasokan minyak harian.
Mengutip Russia’s Pivot to Asia, Kepala Ekonom JP Morgan Bruce Kasman mengatakan, jika Selat Hormuz tetap ditutup, maka harga minyak kemungkinan akan tembus mencapai US$ 150 per barel atau setara Rp 2,55 juta per barel dan diprediksi bisa lebih tinggi lagi.
Untuk membatasi lonjakan harga minyak, Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Keuangan sempat memberikan pengecualian sementara terhadap transaksi minyak Rusia. Kebijakan yang berlaku hingga 12 April itu disebut sebagai bagian dari penyesuaian sanksi guna meredam lonjakan harga energi global.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menjelaskan bahwa langkah itu bertujuan menjaga stabilitas harga energi. Terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang dipicu konflik di Iran.
Namun Rusia telah memberi sinyal pergeseran arah ekspor energinya dengan memprioritaskan pasokan gas alam cair atau LNG ke kawasan Asia. Moskow menegaskan bahwa negara-negara yang dianggap tidak bersahabat akan berada di urutan terakhir dalam distribusi LNG Rusia.
Langkah ini sejalan dengan rencana Uni Eropa yang menargetkan penghentian total impor LNG dari Rusia pada 2027. Menanggapi hal tersebut, Rusia justru menyatakan akan mempercepat pengalihan pasokan ke pasar alternatif yang dinilai lebih menjanjikan.
Negara-negara seperti Cina, India, dan Vietnam kini menjadi fokus utama ekspor energi Rusia, seiring pertumbuhan permintaan yang tinggi di kawasan tersebut.




