Korea Selatan merupakan salah satu destinasi pariwisata bagi warga Indonesia. Bertemu oppa-oppa yang biasa terpampang di layar ponsel, berburu produk kecantikan di Myeongdong, atau sekadar berkeliling di jalan-jalan Kota Seoul, barangkali menjadi impian bagi para pecinta Drama Korea.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan nasional atau penduduk Indonesia yang bepergian ke Korea Selatan sepanjang 2025 mencapai 496.900 orang. Ini menjadikan Korea Selatan sebagai salah satu dari 10 negara tujuan warga Indonesia.
Ketika berpergian ke luar negeri, urusan tukar-menukar uang pun tak luput dari persiapan yang perlu dimatangkan. Dalam hal liburan ke Korea Selatan, memiliki sejumlah uang berbentuk won Korea tentu akan mempermudah transaksi selama berada di sana.
Meski demikian, tidak sedikit dari warga Indonesia yang sudah terbiasa hidup tanpa uang tunai (cashless) mungkin akan kelimpungan ketika harus mengeluarkan lembaran won Korea dari dompet. Belum lagi, uang itu nantinya akan ditukarkan lagi di money changer seusai kembali ke Indonesia.
Namun, kini, tak ada lagi drama-drama transaksi tunai dan tukar-menukar uang tersebut. Mulai April 2026, wisatawan dapat menikmati liburan ke Korea Selatan tanpa perlu mempertebal dompet dengan lembaran-lembaran won Korea.
Layaknya bertransaksi sehari-hari di Indonesia, berbelanja di Korea Selatan pun kini dapat dilakukan hanya berbekal ponsel dalam genggaman tangan. Cukup dengan memindai kode batang (QR), sejumlah saldo di rekening bank atau dompet digital akan terpotong otomatis sesuai nilai transaksinya.
Inilah hasil dari kerja sama Bank Indonesia (BI) dengan Bank of Korea dalam wujud konektivitas pembayaran QR antarnegara alias QRIS lintas batas (crossborder). Inisiatif ini sebagai bagian dari Joint Vision Statement (JVS) antara Presiden Prabowo dan Presiden Lee Jae Myung yang ditandatangani pada Rabu, (1/4/2026), di Korea Selatan.
Dengan kata lain, warga Indonesia dapat bertransaksi di Korea Selatan menggunakan QRIS melalui aplikasi domestik, tanpa perlu menukar valuta asing. Transaksi pun dilakukan langsung dalam mata uang lokal kedua negara, sehingga lebih efisien dan berbiaya rendah.
Sejak diluncurkan pada 2019, QRIS telah menjadi pendorong utama transformasi pembayaran digital sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia. Kini, jumlah pengguna QRIS hingga Februari 2026 telah mencapai 60,77 juta orang. Perkembangan itu turut didukung oleh pemanfaatan QRIS antarnegara.
Adapun konektivitas pembayaran QR dengan Korea Selatan pun semakin melengkapi ekosistem yang telah terbangun antara Indonesia dengan Thailand, Malaysia, Singapura, serta Jepang. Secara keseluruhan, frekuensi transaksi dari wisatawan asing di Indonesia (inbound) lebih tinggi ketimbang transaksi masyarakat Indonesia di luar negeri (outbond).
Pada 2025, transaksi inbound tercatat sebanyak 5,89 juta transaksi atau tiga kali lipat melampaui transaksi outbound yang mencapai 1,68 juta transaksi. Data tersebut mencerminkan QRIS antarnegara telah memberikan dampak yang positif bagi perekonomian domestik.
Terhubungnya pembayaran QR antarnegara tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga memperkuat UMKM, meningkatkan pariwisata, serta membuka peluang baru bagi dunia usaha, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, peresmian QR lintas negara ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan visi bersama Indonesia dan Korea Selatan untuk membangun sistem pembayaran yang terintegrasi, efisien, dan inklusif sebagai fondasi konektivitas ekonomi digital.
“Terhubungnya pembayaran QR antarnegara tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga memperkuat UMKM, meningkatkan pariwisata, serta membuka peluang baru bagi dunia usaha, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," katanya secara virtual dalam Launching QRIS Cross Border Korea Selatan, di Kantor BI, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Selanjutnya, BI akan berupaya meningkatkan kerja sama tersebut dengan memperluas partisipasi, meningkatkan interoperabilitas, dan memperbaiki pengalaman pengguna. Langkah ini dilakukan tidak hanya untuk menghubungkan sistem pembayaran, melainkan juga menghubungkan kebutuhan setiap orang, bisnis, dan potensi ekonomi melintasi batas negara.
Sejalan dengan itu, Deputi Gubernur Bank of Korea, Chang Cheong-soo menyampaikan, peresmian QR antarnegara Indonesia-Korea Selatan menjadi tonggak penting yang mencerminkan semakin eratnya kerja sama kedua negara, khususnya dalam penguatan ekonomi dan keuangan digital.
“Ke depan, kami berkomitmen untuk terus mendorong kolaborasi yang lebih strategis guna memperkuat integrasi sistem pembayaran dan mendukung konektivitas ekonomi digital yang lebih erat antara Korea dan Indonesia," ujarnya.
Saat ini, QRIS antarnegara telah menghubungkan Indonesia dengan beberapa negara mitra di kawasan. Dari implementasi dengan empat negara mitra selama empat tahun terakhir, total volume frekuensi transaksi QRIS antarnegara telah mencapai 12,85 juta transaksi senilai hingga Rp 3,58 triliun.
Per Februari 2026, kerja sama dengan Thailand sejak Agustus 2022 telah mencatat 1,64 juta transaksi dengan nominal sebesar Rp 656,27 miliar. Sementara itu, kerja sama dengan Malaysia yang dimulai pada Mei 2023 mencatat volume yang lebih besar, yaitu 10,66 juta transaksi senilai Rp 2,75 triliun.
Selanjutnya, QRIS antarnegara dengan Singapura yang diluncurkan pada November 2023 telah mencatat 554.510 transaksi dengan nominal sebesar Rp 179,28 miliar. Adapun kerja sama terbaru dengan Jepang sejak Agustus 2025 mencapai 5.088 transaksi dengan nominal sebesar Rp 428,80 juta.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menyampaikan, capaian ini mencerminkan bahwa QRIS antarnegara merupakan solusi relevan yang dibutuhkan masyarakat. Dengan Korea Selatan sebagai mitra baru, Indonesia semakin memperkuat jaringan yang mendukung konektivitas ekonomi dan keuangan digital kawasan.
“Kita sudah merangkul ASEAN+3, yaitu Jepang, Korea Selatan, dan mudah-mudahan bulan depan itu kita dengan China sudah bisa terhubung juga. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya kolektif. Kita mencanangkan regional payment connectivity,” tuturnya saat memberikan sambutan.
QRIS juga dapat menjadi salah satu upaya mengatasi permasalahan pembayaran lintas batas yang sedang dibahas oleh negara-negara anggota G20. Mereka membahas bagaimana menciptakan sistem pembayaran lintas batas antar negara yang cepat, murah, inklusif, dan transparan.
Ke depan, QRIS antarnegara diperkirakan mampu mendorong integrasi ekonomi sekaligus mengurangi friksi dalam transaksi lintas negara yang selama ini masih relatif tinggi. Upaya ini juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurut Filianingsih, QRIS juga dapat menjadi salah satu upaya mengatasi permasalahan pembayaran lintas batas yang sedang dibahas oleh negara-negara anggota G20. Mereka membahas bagaimana menciptakan sistem pembayaran lintas batas antar negara yang cepat, murah, inklusif, dan transparan.
Di sisi lain, upaya tersebut membutuhkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan dalam rangka memperluas akseptasi QRIS antarnegara. Salah satunya dengan mengampanyekan penggunaan QRIS di bandara internasional, kawasan pariwisata, dan pusat perbelanjaan.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) Santoso Liem mengharapkan, kerja sama sistem pembayaran antara Indonesia dan Korea Selatan dapat meningkatkan transaksi wisatawan dari kedua negara dengan fasilitas yang memadai dan kompetitif.
“Tentu perdagangan antara Indonesia dengan Korea juga akan lancar, baik ekspor-impornya, karena yang dipertukarkan kan hanya mata uang rupiah dan won,” katanya saat ditemui di Jakarta.
Meski demikian, dampak yang akan paling signifikan dirasakan oleh Indonesia ialah QRIS antarnegara dengan China. Ini mengingat China merupakan negara mitra perdagangan terbesar Indonesia, baik dari sisi ekspor maupun impor.
Pada akhirnya, digitalisasi telah menawarkan kemudahan dalam kehidupan sehari-sehari, termasuk kebutuhan transaksi ketika liburan ke luar negeri. Kini, Anda bisa berjalan-jalan ke Korea Selatan tanpa membawa dompet yang tebal, cukup dengan ponsel dalam genggaman.





