Anekdot apokrifa. Cerita tentang tokoh terkemuka yang tidak terverifikasi. Anekdot untuk memotivasi dan sekaligus menghibur. Bukan realitas historis yang berada di ranah dokumentasi secara valid. Yah, anekdot ini bertalian dengan tokoh fisikawan teoretis, ilmuwan, filsuf sains, dan intelektual dunia Albert Einstein.
Para ahli melakukan estimasi retrospektif berdasarkan kontribusi ilmiah dan struktur unik di otaknya. Pada umumnya para ahli memperkirakan Intelligence Quotient (IQ) Albert Einstein pada kisaran 160-an (setara dengan genius). Sementara itu, beberapa studi menyebutkan angka hingga 190 - 200.
Albert Einstein yang namanya tersohor berkat pengembangan teori relativitas, teori mekanika kuantum, dan realisme ilmiah itu lahir di Ulm, Jerman pada 14 Maret 1879 dan wafat di Princeton Medical Center, Plainsboro Township, New Jersey, Amerika Serikat pada 18 April 1955. Kisah anekdot itu kerap hadir di pelbagai buku motivasi.
Kisah anekdot itu biasanya menjadi ilustrasi mengenai “pengetahuan versus pemahaman” atau “pendampingan dengan orang genius”. Walaupun bukan peristiwa nyata, ia merepresentasikan sisi humorisnya yang khas dan kerendahan hatinya. Serta, mengaksentuasikan pesan bahwa kegeniusan sejati berlainan jauh dari sekadar kepiawaian menghafal rumus-rumus nan pelik.
Lagi pula, semasa hidupnya Albert Einstein tersohor sebagai seorang humoris, jenaka. Dia tidak jarang melontarkan senda gurau. Bahkan, ketika dia berada dalam situasi serius atau tengah meladeni wawancara ilmiah.
Humor menjadi prestasi kegeniusannya dalam mensimplifikasi konsep rumit. Atau, untuk membangun suasana yang ringan, cerminan entitas pribadi yang luwes dalam pergaulan.
Kisah Anekdot ItuKisah anekdot itu bermula manakala pada suatu kesempatan dia mendapat sebuah pertanyaan unik dari para insan pers pada masanya. Pertanyaan yang unik itu adalah “Siapakah menurut Anda, orang paling cerdas di dunia ini?”
Dan, uluran jawaban yang terlontar pun sungguh mengejutkan semua insan pers yang hadir. Dengan nada suara mantap, Albert Einstein pun mengatakan, “Dia adalah sopir saya.”
Sontak, tanpa ada yang mengomando, dari mulut para pemburu berita di zaman media cetak berkuasa itu, secara hampir berbarengan melontarkan kalimat tanya pendek, “Kok bisa dia?” Rasa penasaran pun tampak mengguyur raut wajah mereka.
Dengan senyum manis, Albert Einstein pun menuturkan kisah tentang dia bersama sopir pribadinya. Begitulah pada suatu hari, dia mendapat undangan dari sebuah universitas yang berada di sebuah wilayah yang relatif jauh dari keramaian perkotaan besar.
Kebetulan pada malam harinya, dia keasyikan terlibat dalam suatu penelitian di laboratorium pribadinya. Saking keasyikan, dia tidak tidur semalaman.
Akibatnya, pada hari ketika dia mendapat undangan untuk melakukan ceramah ilmiah di universitas yang telah terjadwalkan itu, dia merasakan keletihan yang amat sangat.
Hal tersebut dia utarakan kepada sopir pribadinya ketika dalam perjalanan menuju ke lokasi tujuan. Sopir bersangkutan, menurut keyakinan kisah anekdot itu, sudah sering mengantar dan ikut mendengarkan ceramah Albert Einstein dalam berbagai kesempatan.
Dengan kepercayaan diri telah hafal seluruh isi materi yang sebelumnya sudah pernah berulang-ulang dia dengar saat mengawal Sang Majikan berceramah dalam berbagai kesempatan, sopir itu menawarkan diri untuk menggantikan posisi Albert Einstein untuk berceramah.
Sang Genius pun terdiam sejenak. Tak lama kemudian Sang Peraih Hadiah Nobel Fisika 1921 itu pun mengajukan sejumlah pertanyaan untuk mengetes penguasaan materi dari Si Sopir.
Demikianlah, setelah Albert Einstein menilai penguasaan materi si sopir ternyata relatif baik, dia pun mengokekan tawaran tersebut. Saat itu, walaupun nama sang fisikawan sudah terkenal, performa fisiknya (wajah, perawakan tubuh, rambut dan sebagainya) belum banyak yang mengetahuinya.
Kisah anekdot ini juga meyakini, para dosen dan para mahasiswa/mahasiswi, serta insan pers yang bakal hadir dalam kegiatan ceramah ilmiah itu belum pernah melihat performa fisik Albert Einstein sebelumnya. Plis deh, jangan tanya logika narasi (realis). Sekali lagi, ini hanya anekdot.
Nah, kemudian, keduanya bertukar peran. Si Sopir mengenakan pakaian Albert Einstein. Dan, Albert Einstein pun mengenakan seragam sopir. Begitulah mereka melanjutkan perjalanan ke lokasi tujuan.
Sebagaimana rancangan skenario yang menjadi kesepakatan bersama. Si Sopir ternyata aktor yang berbakat, sehingga mampu memainkan peran nyaris sempurna.
Sementara itu, Albert Einstein yang hadir pula di ruangan ceramah itu, duduk di kursi bagian paling belakang. Berseragam sopir. Mengistirahatkan tubuhnya yang berbalut kelelahan yang amat sangat. Dan, sempat beberapa saat menyenandungkan dengkur lirihnya. Walau hanya untuk beberapa jenak, sudah cukup untuk memulihkan staminanya.
Semua penanda situasi menunjukkan tidak ada indikasi akan terjadi suatu masalah. Segalanya berjalan dengan begitu mulus tanpa pernah terbayang akan terlintas hal yang dapat menimbulkan persoalan pelik. Dalam sesi tanya jawab pun, Si Sopir yang menyamar itu mampu mengatasinya dengan sebaik-baiknya.
Sampai ketika seorang insan pers mengajukan satu pertanyaan yang begitu menantang. Dia meminta penjelasan teknis tentang teori relativitas yang hanya mungkin mendapatkan jawaban secara memuaskan dari pakarnya langsung. Ini sungguh pertanyaan rumit dan pelik.
Si Sopir tentu saja sempat terdiam sejenak. Kali ini dia merasa tidak akan mampu menjawabnya dengan baik. Pikirannya pun segera bekerja. Dan, solusi cerdik segera mampir di jaring strateginya.
Dengan senyum lebar, dia pun mengatakan, “Ah, pertanyaan itu sungguh sangat sangat mudah. Bahkan sopir saya yang kini duduk di belakang sana, bisa menjawabnya.”
Dan, ending yang manis dapat segera ditebak dengan gamblang. Albert Einstein yang menyaru sebagai sopir itu dengan lancar dan meyakinkan dapat menjawab pertanyaan yang rumit dan pelik itu. Begitulah yang sudah tertulis di suratan “takdir narasi”.
Saya menonton video kisah anekdot itu di sebuah platform digital media sosial dalam versi berbahasa Inggris yang relatif sederhana. Terlebih lagi setiap ucapan narator tertulis kembali dalam bentuk teks. Dengan demikian, lebih mudah untuk mempertemukan antara ucapan dan tulisannya.
Asal Kata “Sopir”Dan, yang menarik perhatian saya, dari sekian teks yang tertera dari sajian filmis anekdot itu adalah jawaban ketika Albert Einstein menerima pertanyaan dari sejumlah insan pers mengenai siapakah orang paling cerdas di dunia ini.
Jawaban yang menohok rasa keheranan mereka pun hadirlah. “Dia adalah sopir saya,” ucapnya. Versi bahasa Inggris dari jawaban itu seperti teks narasi pada ilustrasi di awal tulisan ini. “He said my chauffeur.”
Dalam bahasa Inggris, transkripsi fonetis versi International Phonetic Alphabet (IPA) dari kata chauffeur adalah /ˈʃəʊ.fəɹ/ (menurut pengucapan British English) dan /ʃoʊˈfɜːr/ atau /ˈʃoʊfər/ (menurut pengucapan American English).
Alfabet fonetik /ʃ/ merupakan bunyi 'sh' (seperti pada kata ship). Lalu /əʊ/ atau /oʊ/ mewakili bunyi vokal 'ou' (seperti pada go). Adapun /f/ adalah bunyi 'f'. Alfabet fonetik /ə/ merujuk bunyi vokal lemah atau schwa (seperti 'a' pada about). Selebihnya,/ɹ/ atau /r/ merupakan bunyi 'r' (sering lebih jelas dalam pengucapan American English).
Bila transkripsi fonetis di atas mendapatkan penyederhanaan penulisan, maka dari /ˈʃəʊ.fəɹ/ akan terbentuk pengucapan /’shou.fer/ (British English) dan dari /ʃoʊˈfɜːr/ akan terbentuk pengucapan /shou’fer/ atau /ˈʃoʊfər/ = /’shoufer/. Ada terdapat kemiripan (walau tidak terlalu banyak) dengan pengucapan kata “sopir”.
Dalam bahasa Indonesia, kata “sopir” menempatkan dirinya sebagai salah satu contoh penyerapan dari bahasa asing yang menarik untuk menjadi subjek pembicaraan. Secara etimologis, pada mulanya kata tersebut berasal dari bahasa Prancis, yaitu chauffeur. Ketika kata tersebut mengalami pengadopsian ke dalam bahasa Inggris, struktur ejaannya masih bertahan.
Namun, yang berbeda adalah transkripsi fonetisnya. Menurut IPA, kata chauffeur dalam bahasa Prancis, pengucapannya adalah /ʃofœʁ/. Alfabet fonetik /ʃ/ dilafalkan dengan bunyi ‘sy’ (seperti dalam kata “syarat”). Lalu /o/ merupakan bunyi ‘o’ tertutup (seperti dalam kata “foto”).
Kemudian /f/ sebagaimana bunyi ‘f’ biasa. Sudah itu /œ/, bunyi vokal depan tengah membulat (vokal tengah antara 'e' dan 'eu' dalam bahasa Prancis, mirip 'eu' pada kata "teuleu" tapi lebih terbuka). Dan, /ʁ/, bunyi 'r' khas Prancis yang dihasilkan di tenggorokan (uvular fricative).
Secara sederhana, kata chauffeur dalam bahasa Prancis, memiliki struktur pengucapan /syofer/. Kata ini memiliki arti harfiah “tukang memanaskan” atau “juru pengapian”. Perujukan makna ini bertalian erat dengan konteks awal sejarah bagaimana proses pengoperasian mobil pada mulanya. Sangat berkaitan dengan fungsi teknik pengemudi pada awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Lebih tepatnya dengan keberadaan teknologi mobil uap. Mesin uap menjadi tenaga penggerak yang memobilisasi kendaraan ini dari satu titik lokasi ke titik lokasi yang lain. Air yang terdapat di dalam boiler perlu mengalami pemanasan terlebih dahulu. Tujuannya, agar dapat menghasilkan uap bertekanan tinggi untuk menggerakkan piston.
Mobil uap tidak mempunyai sistem pengapian busi sebagaimana mobil modern. Akan tetapi, dengan sistem pengapian melalui sistem pembakaran bahan padat seperti batu bara dan kayu atau bahan cair seperti minyak untuk memproduksi panas.
Tugas pengelolaan bahan bakar untuk mobil uap menjadi tanggung jawab juru pengapian, chauffeur dalam bahasa Prancis. Adapun bahasa Inggris, selain mengadopsi kata Prancis, juga mempunyai padanan stoker atau fireman.
Tugas chauffeur terkait dengan upaya pengelolaan bahan bakar adalah dengan memasukkannya secara teratur ke dalam tungku (boiler). Menjaga agar nyala api tetap stabil. Selain itu, mengatur intensitas pembakaran, agar tekanan uap di dalam boiler tidak terlalu rendah sehingga menyebabkan tenaga penggerak mobil uap hilang.
Atau sebaliknya, tekanan uap yang melampaui batas kekuatan struktur boiler bisa mengakibatkan ketel pecah secara tiba-tiba. Dan, melepaskan energi uap nan dahsyat. Bisa menghancurkan kendaraan serta menelan korban jiwa.
Termasuk tugas chauffeur, yaitu memantau indikator air dan memastikan air dalam boiler selalu terisi dengan mencukupi. Sebab, jika sampai kering akan dapat menimbulkan ledakan.
Kemudian, mengatur aliran udara ke dalam tungku (damper) guna mengoptimalkan efisiensi pembakaran. Tidak ketinggalan membersihkan kerak dan sisa pembakaran pada bagian-bagian boiler.
Manakala sejarah menitahkan untuk memberadakan mobil-mobil dengan teknologi mesin yang berbahan bakar bensin, tugas untuk memanaskan mesin pun terhapus sudah dari proses pengoperasian mobil. Akan tetapi, kata chauffeur tetap bertahan dan mengalami pergeseran makna sebagai “orang yang mengemudikan mobil”.
Pekerjaan chauffeur pada awalnya merujuk pada pengemudi profesional yang berkat keahliannya, pejabat atau orang kaya menyewa jasanya untuk menjalankan limosin atau mobil pribadi.
Dalam bahasa Inggris modern, ada perbedaan makna antara chauffeur dan driver biasa. Chauffeur lebih mengacu pada pengemudi profesional yang mempersembahkan layanan secara mewah atau khusus.
Penyerapan Bahasa IndonesiaBahasa Indonesia menyerap kata chauffeur menjadi “sopir”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (Data Kamus Edisi Oktober 2025), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, “sopir” merupakan entri baku. Sementara itu, “supir” tidak baku.
Bermakna umum sebagai pengemudi kendaraan bermotor, beroda tiga atau empat atau lebih, tetapi tidak lazim untuk kendaraan roda dua. Dalam penggunaan bahasa Indonesia, lebih lazim kedengaran “sopir bemo” (roda tiga), “sopir mobil pribadi” (roda empat), atau “sopir truk tronton” (roda sepuluh/lebih dari empat). Namun, relatif jarang atau tidak pernah kedengaran “sopir sepeda motor” (roda dua).
Bahasa Indonesia menyerap chauffeur melalui perantara bahasa Belanda. Struktur ejaan diadopsi sama persis seperti dalam bahasa Prancis. Namun, cara pengucapannya berbeda.
Transkripsi fonetis dalam bahasa Belanda, yaitu /ʃoːˈfœr/. Alfabet IPA /ʃ/ berunyi ‘sy’ (seperti dalam kata "syarat"). Lalu /oː/ merepresentasikan bunyi ‘o’ panjang. Kemudian /f/ merupakan bunyi ‘f’. Dan, /œr/ adalah bunyi ‘eu’ (mirip vokal campuran e dan o) diikuti dengan "r" yang jelas. Sederhananya /syo:’feur/.
Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, mobil masih termasuk ke dalam kategori barang mewah. Orang Belanda menyebut pengemudi pribadi mereka dengan chauffeur. Yang kedengaran diucapkan /syo:’feur/. Selanjutnya dalam proses penyerapan menurut struktur pengucapan orang kita, muncullah adaptasi pelafalan menjadi kata “sopir”.
Hingga awal abad ke-20, boleh terbilang bahwa sopir merupakan pekerjaan yang mentereng alias bergengsi. Pekerjaan sopir pada masa itu pernah menjadi salah satu cita-cita dari anak-anak bumiputra di Hindia Belanda, terutama di wilayah perkotaan. Hal ini bertalian dengan kian populer kepemilikan mobil pribadi di kalangan Belanda (dan Eropa lainnya) serta elite bumiputra.
Pada masa itu sopir berada dalam ranah anggapan masyarakat sebagai pekerjaan modern dan bergengsi. Sopir, dalam pandangan masyarakat kala tersebut, merupakan pekerjaan yang menuntut penguasaan mesin, sehingga mempunyai gengsi sosial yang lebih tinggi berbandingkan dengan buruh tani atau buruh kasar.
Sebab, memperoleh kesempatan menjadi sopir pribadi bagi orang-orang Belanda (dan Eropa lainnya) atau bangsawan bumiputra menjadi jembatan untuk menempati akses matapencaharian di lingkungan domestik yang lebih baik, menerima gaji tetap. Dan, yang bisa membanggakan mereka dalam performa keseharian adalah dengan adanya seragam.
Minat para pemuda bumiputra di wilayah perkotaan yang relatif besar terhadap pekerjaan sebagai sopir dan montir pada awal abad ke-20, menemukan bentuk penyaluran yang bergayung sambut dengan pendirian kursus-kursus mengemudikan mobil dan merawat mesin mobil.
Begitulah adanya, pekerjaan menjadi sopir memperoleh cipratan impresi sebagai pekerjaan “kerah putih” atau semiterampil yang sedemikian menjanjikan, teristimewa di wilayah perkotaan.
Sekali lagi perlu mendapat catatan, bahwa sosok cita-cita yang menempatkan pekerjaan sebagai alternatif pilihan bergengsi para anak muda pada awal abad ke-20, tidak terjadi atau jarang berlaku bagi para anak muda di wilayah perdesaan yang masih menganut pola pandangan hidup tradisional.
Adapun di wilayah perkotaan, sopir pribadi juga merupakan relasi kerja kolonial, guna melayani majikan Belanda atau bangsa Eropa lainnya.
Dewasa ini, pekerjaan sopir boleh terkatakan telah mengalami proses egaliterisasi dari muruahnya sebagai keterampilan (skill) yang hanya menjadi milik kalangan terbatas. Dengan kemajuan teknologi otomotif yang telah melangkahkan kaki di dataran sejarah sedemikian jauh. Setidaknya diwarnai dengan produksi mobil yang sedemikian masif dan jalur-jalur peruntukan masing-masing.
Oleh karena itu, keterampilan profesional mengemudikan mobil kini tidak lagi berlepotan impresi sebagai pekerjaan yang tidak terlalu jauh meninggalkan wilayah kesan berdekatan dengan kaum elite seperti pada awal abad ke-20.
Akan tetapi dewasa ini, dengan latar belakang impresi yang lebih netral, pekerjaan sopir bisa mengacu pada sopir pribadi, sopir angkutan umum, ataupun sopir truk pengangkut bahan kebutuhan pokok dan bangunan.
Mengapa Sopir BRT Disebut Pramudi?Untuk Bus Rapid Transit (BRT), salah satu jenis angkutan umum, juga Feeder (berkapasitas lebih kecil dari BRT dan menjadi penghubung rute utama), penyebutan untuk pengemudinya bukan “sopir” melainkan ‘pramudi”.
Bisa jadi pilihan penyebutan ini untuk menegaskan sosok pekerjaan yang profesional, terdidik (secara keterampilan), dan kompeten (menciptakan rasa nyaman bagi penumpang).
Secara morfologis, “pramu-” adalah bentuk terikat. Ia tidak dapat berdiri sendiri. Agar mempunyai makna yang jelas, “pramu-” harus bergabung dengan kata dasar, salah satunya “kemudi”. Seharusnya jika mengalami penggabungan akan terbentuk “pramukemudi”.
Di sini terjadi penghilangan silabel “ke” dan penyatuan silabel “mu” dalam proses penyingkatannya. Dengan demikian, terbentuklah bentuk yang memenuhi asas efisiensi pengucapan, yaitu “pramudi”.
“Pramu-” merupakan bentuk terikat yang berasal dari bahasa Sansekerta. Maknanya “pelayan” atau “pengelola”. Mengacu pada orang yang melayani atau mengurus sesuatu. Sementara itu, kata dasar yang melekat pada bentuk terikat “pramu-” adalah “kemudi” (mengalami kontraksi morfologis). Mengacu pada alat untuk mengatur arah mobil atau sistem navigasi kendaraan.
Dengan demikian, usungan makna secara harfiah dari “pramukemudi” atau yang telah mengalami kontraksi morfologis menjadi “pramudi”, yaitu orang bertugas melayani masyarakat melalui pengoperasian kemudi kendaraan. Dalam hal ini jenis kendaraan BRT (bus) dan Feeder (bus mini).
Penyebutan “pramudi” menggantikan “sopir” sarana transportasi massal tersebut untuk menegaskan profesionalisme, pelayanan, dan tanggung jawab yang lebih tinggi daripada sopir secara umum. Sebab, fokus peran mereka pada pengoperasian sarana transportasi publik yang memasang standar tinggi.
Oleh karena itu, proses perekrutan pramudi melalui keikutsertaan dalam.pelatihan mengemudi secara aman (safety riding) dan kepemilikan lisensi khusus (SIM Umum) yang menunjukkan penguasaan kompetensi teknis.
Selain itu, pramudi menunaikan deskripsi pekerjaannya sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat, meliputi tata krama pelayanan, manajemen waktu, dan kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas serta prosedur rute.
Di pundak pramudi, juga ada tanggung jawab atas keselamatan banyak penumpang dalam BRT ataupun Feeder yang mereka kemudikan. Oleh karena itu, mereka seharusnya memiliki kesabaran ekstra, fokus, dan kemampuan mengelola emosi manakala menghadapi situasi arus lalu lintas yang sedang padat. Pun, ketika kendaraan yang mereka bawa mengalami gangguan teknis (perpal).
Para pramudi mempunyai orientasi pelayanan terhadap para pelanggan yang berhak menerima perlakuan yang ramah dan merasakan rasa nyaman ketika menumpang BRT atau Feeder yang menjadi tanggung jawab mereja.
Para pramudi telah terlebih dahulu melalui proses pelatihan mental profesional, sehingga mampu mengelola stres dengan baik manakala merespons pengguna jalan lain yang bisa jadi arogan dalam berlalu lintas saat mereka bertugas.





