VIVA – Mantan gelandang Timnas Belgia, Radja Nainggolan, mengungkapkan kekecewaannya karena hanya mencatatkan 30 caps bersama timnas Belgia sepanjang kariernya.
Jumlah caps tersebut dinilai tidak sebanding dengan karier gemilangnya di level klub, terutama saat bersinar bersama AS Roma dan Inter Milan.
Pemain berdarah Batak itu mengungkapkan cerita tersebut dalam wawancara dengan media Belanda, Voetbal Primeur. Ia menjelaskan bahwa konflik internal dengan pelatih Timnas Belgia saat itu menjadi salah satu penyebab karier timnasnya tidak berjalan panjang.
"Pada 2018, saya tak diijinkan pergi ke Piala Dunia karena saya punya konflik di bench. Ini benar-benar omong kosong. Saya katakan oke, ini sudah cukup," ucapnya.
Radja menjelaskan bahwa konflik internal antara dirinya dengan pelatih Timnas Belgia saat itu, Roberto Martinez, membuatnya tidak lagi mendapat kesempatan bermain untuk timnas sejak dicoret dari skuad Piala Dunia 2018.
Jika kariernya di timnas berakhir seperti itu, Radja bahkan berkelakar seharusnya ia memilih membela Timnas Indonesia lebih awal melalui jalur naturalisasi.
"Saya punya waktu yang sangat sulit saat itu," kata Radja dilansir Voetbal Primeur.
"Saya mengorbankan hidup saya untuk bisa bermain membela timnas Belgia. Saya telah membuat statement akhir-akhir ini. Jika saja saya tah akan berakhir seperti ini, saya akan memilih Indonesia lebih awal."
Meski demikian, Radja tetap menegaskan dirinya bangga menjadi warga Belgia. "Saya bangga menjadi orang Belgia," tambahnya.
Radja Nainggolan sendiri memang memiliki darah Indonesia dari ayahnya yang berasal dari Batak, sehingga ia sebenarnya memiliki peluang untuk membela Timnas Indonesia melalui proses naturalisasi.
Pada musim 2024/2025 lalu, Radja bahkan sempat bermain di Indonesia bersama Bhayangkara FC selama sekitar enam bulan.
Selama berada di Indonesia, Radja mengaku terkesan dengan sambutan dan respek yang ia terima dari masyarakat Indonesia, bahkan menurutnya lebih besar dibandingkan yang ia dapat di Belgia.
"Saya bermain di Indonesia untuk 6 bulan. Respek dan apresiasi yang saya terima dari orang-orang di sana benar-benar berbeda daripada di Belgia," tambahnya.





