Bisakah manusia memiliki anak di luar angkasa? Pertanyaan ini mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah. Namun, para ilmuwan mulai mencari jawabannya seiring berkembangnya eksplorasi luar angkasa.
Ya Moms, penelitian terbaru dalam jurnal Communications Biology menemukan bahwa kemampuan sperma untuk “menemukan jalan” bisa terganggu dalam kondisi tanpa gravitasi atau mikrogravitasi.
Dalam studi ini, para ilmuwan menguji sperma menggunakan alat yang menyerupai saluran reproduksi. Hasilnya, sperma tetap bisa bergerak, tetapi lebih sulit bernavigasi.
“Ini adalah pertama kalinya kami dapat menunjukkan bahwa gravitasi merupakan faktor penting dalam kemampuan sperma untuk menavigasi melalui saluran seperti saluran reproduksi,” kata penulis senior Dr. Nicole McPherson dari Adelaide University’s Robinson Research Institute, dikutip dari New York Post.
“Kami mengamati penurunan signifikan jumlah sperma yang berhasil menemukan jalan mereka melalui labirin ruang uji dalam kondisi mikrogravitasi dibandingkan dengan gravitasi normal,” lanjutnya.
Menariknya, gangguan ini bukan karena sperma menjadi lebih lemah, Moms.
“Hal ini dialami di semua model, meskipun tidak ada perubahan pada cara sperma bergerak secara fisik. Ini menunjukkan bahwa hilangnya arah pergerakan sperma bukan disebabkan oleh perubahan motilitas, melainkan oleh elemen lain," jelasnya.
Ilmuwan Ungkap Tantangan Sperma di MikrogravitasiPara peneliti juga menemukan bahwa hormon progesteron dapat membantu sperma “menemukan jalan” lebih baik, meski hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut.
Selain itu, tingkat pembuahan memang menurun dalam kondisi mikrogravitasi. Namun, sperma yang berhasil membuahi sel telur pada tahap awal justru menghasilkan embrio dengan kualitas lebih baik.
“Tekanan mikrogravitasi bertindak sebagai 'filter' yang hanya menyisakan 'sperma paling mumpuni yang lolos seleksi,'” jelas McPherson.
Sayangnya, efek ini tidak bertahan lama. Paparan mikrogravitasi yang lebih lama justru berdampak buruk pada perkembangan embrio.
“Kami mengamati penurunan tingkat pembuahan selama paparan mikrogravitasi selama empat hingga enam jam. Paparan yang berkepanjangan tampaknya bahkan lebih merugikan, mengakibatkan keterlambatan perkembangan dan, dalam beberapa kasus, berkurangnya sel-sel yang kemudian membentuk janin pada tahap awal pembentukan embrio.”
Nah, temuan ini menunjukkan, proses reproduksi di luar angkasa masih sangat kompleks dan membutuhkan banyak penelitian lanjutan.
McPherson menekankan, perjalanan untuk melihat bayi pertama yang lahir di ruang angkasa masih lama. Meski begitu, harapan tetap ada, Moms.
“Dalam penelitian terbaru kami, banyak embrio sehat masih dapat terbentuk meskipun dibuahi dalam kondisi seperti ini. Ini memberi kita harapan bahwa reproduksi di luar angkasa suatu hari nanti mungkin akan terwujud,” tutup McPherson.




