Penulis: Hesti D. Ameliasari
TVRINews, Banjarmasin
Kondisi aliran Sungai Martapura di kawasan Sungai Gampa, Banjarmasin, dipenuhi berbagai jenis sampah, mulai dari eceng gondok, material kayu, hingga limbah plastik.
Fenomena ini menjadi kejadian tahunan yang kerap dialami warga, terutama saat air pasang ketika volume sampah meningkat dan menutup jalur transportasi kelotok atau perahu bermesin sebutan masyarakat banjar.
Akibatnya, warga yang sehari-hari mengandalkan transportasi sungai terpaksa memutar jalur dan beralih menggunakan sepeda motor.
Meski biaya transportasi sungai atau jukung dinilai lebih mahal, warga tetap memilih kelotok karena lebih memudahkan mobilitas ke area persawahan dan perkebunan serta mampu mengangkut hasil tani dalam jumlah besar.
Salah seorang warga, Samsiah, mengatakan kondisi tersebut membuat aktivitas warga terganggu karena transportasi sungai tidak dapat digunakan.
“Saat air pasang, sampah naik sehingga kelotok tidak bisa lewat. Jukung yang biasa digunakan ke sawah untuk membawa barang juga tidak bisa melintas. Kami berharap sungai ini bisa dibersihkan karena kasihan warga yang lewat,” jelas Samsiah saat ditemui tvrinews.com, Sabtu, 4 April 2026.
Warga lainnya, Nor Ainah, menyebut kondisi ini semakin memburuk dalam beberapa tahun terakhir akibat kiriman sampah dari luar saat musim hujan.
“Sampah yang datang berupa kayu dan berbagai material lainnya dari luar saat hujan. Di sini biasanya hanya kayu apung dan eceng gondok, namun saat air pasang sampah dari luar ikut masuk. Kondisi ini terjadi setiap tahun, tetapi dalam dua hingga tiga tahun terakhir semakin parah,” jelas Nor.
Terganggunya akses sungai ini juga berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi warga Sungai Gampa. Pemerintah diharapkan segera melakukan pembersihan secara menyeluruh agar mobilitas dan kegiatan pertanian masyarakat dapat kembali normal.
Editor: Redaktur TVRINews





