KOMPAS.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian meninjau langsung kondisi pengungsi di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (4/4/2026).
Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan percepatan penanganan warga terdampak bencana, termasuk yang masih berada di tenda.
Dalam peninjauan tersebut, Tito berdialog dengan para pengungsi di tiga desa, yakni Lubuk Sidup, Tanjung Gelumpang, dan Sekumur. Ketiga desa tersebut berada di Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang.
Baca juga: Kembali Terjunkan Praja IPDN ke Aceh Tamiang, Mendagri Tito: Sasar Pembersihan Sisa Lumpur di Permukiman Terdampak Bencana
Ia mengungkapkan, jumlah pengungsi telah menurun drastis jika dibandingkan kondisi awal pascabencana yang terjadi pada akhir November 2025. Dari sekitar 2,1 juta jiwa yang sempat mengungsi di tiga provinsi terdampak, kini jumlahnya semakin berkurang.
“Pemerintah ingin menyampaikan, pengungsi yang sudah tidak tinggal di tenda mendekati 100 persen. Kenapa? Kami hitung lebih kurang sekira-kira katakanlah 300 kepala keluarga (KK) lebih kurang misalnya 1.000 pengungsi ketimbang awalnya 2,1 juta jiwa. Itu sudah 99 persen lebih yang tidak lagi di tenda,” ujar Tito dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (4/4/2026).
Baca juga: Mendagri Terbitkan SE, Atur Ketentuan Transformasi Budaya Kerja bagi ASN Pemda
Meskipun jumlah pengungsi relatif sedikit, Tito menegaskan bahwa pemerintah tetap memberikan perhatian penuh terhadap para pengungsi yang tersisa, khususnya di Aceh Tamiang dan Bireuen. Bagi pengungsi di Bireuen, pemerintah tengah membangun hunian tetap (huntap).
"Kemudian yang masuk ke daerah Sekerak ini, saya mau lihat satu per satu desa-desa yang saya sebutkan tadi dan kemudian bagaimana penyelesaiannya," ujarnya.
Dalam peninjauan tersebut, Tito melihat langsung progres pembangunan hunian sementara (huntara) di sejumlah desa, termasuk Sekumur.
Baca juga: Mendagri Sarankan Kepala Daerah Pakai Kendaraan Listrik hingga Sepeda
Ia pun optimistis, pembangunan huntara bagi warga dapat segera rampung dalam waktu dekat. Kondisi geografis seperti akses jalan yang terdampak longsor menjadi salah satu kendala dalam percepatan pembangunan di wilayah tersebut.
"Mudah-mudahan cuaca mendukung sehingga akhir minggu depan semua huntara di tanah masing-masing bisa dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)," kata Tito.
Selain pembangunan hunian, pemerintah juga memastikan berbagai bantuan diberikan kepada masyarakat terdampak, seperti bantuan lauk-pauk, perabot rumah tangga, hingga stimulan ekonomi.
Tito juga menyoroti kebutuhan dasar lain, seperti penyediaan air bersih yang akan dipenuhi melalui pembangunan sumur bor oleh BNPB dan Satgas PRR.
Langkah ini dilakukan berdasarkan aspirasi masyarakat yang berharap bantuan sumber air bersih.
Ia melanjutkan, rencana pembangunan hunian tetap (huntap) secara terpusat sesuai aspirasi masyarakat yang menginginkan relokasi dari kawasan rawan bencana.
“Tadi saya sudah dengar langsung dari masyarakat juga dari kepala desa karena tergolong daerah rawan di pinggir sungai. Karena itu, masyarakat menghendaki agar dibangunkan hunian tetap dalam bentuk kompleks,” ujarnya.





