Di tikungan antara Jalan Rawa Bambu dan Jalan Pertanian III, Pasar Minggu, Jakarta Selatan itu, terhampar lahan kosong dengan rumput yang jarang-jarang. Hanya saja di sudut lahan itu terlihat pemandangan mencolok: ada tumpukan barang yang menggunung.
Sekilas, barangkali dari penglihatan orang yang melintas, akan menilai tumpukan itu sebagai sampah. Namun bila dilihat lebih dekat, barang-barang itu terlihat dipilah-pilih oleh tangan sejumlah lansia untuk dijadikan mata pencaharian.
Tangan mereka memegangi cutter untuk memotong stempel merek di botol plastik secara satu per satu. Lalu ada juga yang tanggannya menyemai tali rapia untuk merapikan karung agar kokoh menjadi tempat membawa barang hasil memulung.
Di depan mereka ada dua buah gerobak sedang terparkir, salah satunya milik Bambang (67). Gerobak itu dipakai Bambang untuk memulung, sekaligus tempatnya untuk tidur setiap harinya.
“Di gerobak saja tidurnya,” kata Bambang saat ditemui, Sabtu (4/4).
Setiap hari Bambang menyusuri jalanan Jakarta mulai dari Pasar Minggu hingga kawasan Monumen Nasional untuk mencari botol, kardus, berbagai kemasan plastik, dan segala barang bekas. Bahkan bagi Bambang, barang buangan bagi orang lain justru menjadi rezeki untuknya.
“Pinggir jalan aja, tempat sampah di pinggir jalan itu. Menunggu buangan orang aja. Kalau enggak ada buangan orang ya berjalan terus,” ujar Bambang.
Setiap harinya, menurut kisarannya, ia menempuh perjalanan sejauh 10 kilometer dan belum termasuk jarak pulangnya. Kakinya mulai berjalan sebelum matahari benar-benar memunculkan sinarnya dan berhenti sebelum matahari sepenuhnya redup, kembali pulang ke lahan kosong di tikungan jalan itu.
“Jam 5 pagi (jalan), nanti jam 11 istirahat sebentar, nanti sudah orang sembahyang muter lagi, nanti jam-jam 3 istirahat sebentar. Biasanya sampai maghrib,” ungkap Bambang.
Jam istirahat itu digunakan oleh Bambang untuk merapikan barang hasil memulung, seperti memotong stempel merek atau merapikannya. Sebab bila tidak rapi, barang yang dikumpulkannya tidak akan diterima dan menjadi sia-sia.
Mata pencaharian memulung ini dijalaninya selama setahun terakhir dengan penghasilan berkisar Rp 60 - 80 ribu per tiga hari. Setelah dirinya mengambil keputusan besar untuk meninggalkan kampung halamannya di Ponorogo, Jawa Timur.
“Alasannya di kampung udah enggak ada keluarga. Emak enggak ada, bapak enggak ada, sanak famili enggak ada. Saya sebatang kara,” tutur Bambang.
Jakarta menjadi pilihannya untuk berlabuh karena menurutnya orang-orang cenderung masing-masing, sehingga ia pun tidak terbebani untuk menjalani kerja apa pun. Ketika tiba di Jakarta, yang dibawanya hanyalah diri dan satu kantong kresek.
“Enggak ada bawa apa-apa, pakaian saja satu setel. (Pakai) kantong kresek,” ujarnya.
Seminggu pertama di Jakarta adalah waktu paling berat dialaminya sebab ia mencari kerja ke sana-kemari hasilnya selalu nihil.
“Ku lamar enggak ada katanya, sudah penuh orangnya, pekerjaan tinggal dikit. Jadi kan kita uang sudah habis, perut sudah lapar, untuk beli enggak ada, terpaksa lah aku terjun ke ini (menjadi pemulung),” ucap Bambang.
Bambang pun menjelaskan ketika pertama kali menjadi pemulung, ia bertemu terlebih dahulu dengan Hamang (54). Hamang telah menjadi pemulung sejak tahun 2014 dan menjadi penghubung untuk para pemulung menjual ke pengepul.
“Habis nggak ada uang, kan tanya-tanya berapa sekilo. Habis gitu, ‘Aku boleh numpang ikut mulung Bu?’ ‘Boleh’. Saya enggak punya karung, nah itu ada karung dikasih karung,” jelas Bambang.
Ketika Idul Fitri lalu, karung itu pun kemudian berganti menjadi gerobak yang ia beli secara menyicil. “Kemarin itu seharga 300 gitu. Jadi setiap nimbang seumpamanya dapat 80, saya ambil yang 30, yang 50 kuangsur buat mengangsur itu,” ujar Bambang.
Hamang menjelaskan untuk botol kemasan plastik harganya berkisar Rp 3.000 saat dijual ke pengepul di pabrik kawasan Poltangan, Pejaten, Jakarta Selatan. Sementara itu, kardus seharga Rp 1.500.
Hamang merupakan makelar yang membeli barang dari pemulung untuk dijual ke pengepul. Dari satu kilo, ia mengaku hanya mengambil keuntung seribu.
“Saya beli dari si bapak nih seumpama 2.000, saya jual ke sana 3.000 gitu, paling dapetnya 1.000 sekilonya gitu,” kata Hamang.
Untuk menjalani profesinya ini, ia juga memiliki timbangan sendiri. Ada sekitar lima pemulung yang selalu menjual kepadanya, meskipun tak sedikit pemulung-pemulung lain berdatangan untuk menjual.
Sementara itu, gunungan barang yang berada di tanah lapang sudut jalan itu, merupakan hasil pembelian Hamang kepada para pemulung yang belum dijual ke pengepul. Lahan ini digunakan olehnya selama tiga tahun terakhir dan mengaku mendapatkan izin, syaratnya rapi.
“Ya enggak apa-apa sih tempatin sama saya gitu. Cuma ya bahasanya dia (pemilik) tuh mesti bisa rapi-rapi gitu,” ungkap Hamang.





