PASKAH datang lagi. Pesannya sederhana, tetapi justru di situlah letak tantangannya: sarungkan pedangmu.
Kalimat itu tidak lahir dalam suasana tenang. Ia muncul ketika situasi sedang genting.
Peristiwa di taman Getsemani berlangsung cepat. Salah satu murid bereaksi spontan—menghunus pedang dan menyerang.
Dalam momen seperti itu, reaksi tersebut terasa wajar. Namun, justru di situlah interupsi terjadi. Yesus meminta agar pedang itu disarungkan.
Saya tidak membaca peristiwa ini sebagai ajakan untuk diam atau menyerah. Terlalu mudah jika dimaknai seperti itu.
Perbedaan Tidak Lagi Mendapatkan Ruang
Pesan tersebut menyentuh hal yang lebih mendasar: bagaimana kita memilih cara bertindak ketika berada dalam tekanan.
Tidak semua yang bisa dilakukan perlu dilakukan—terutama jika itu hanya memperpanjang lingkar kekerasan.
Hari-hari ini, kita menyaksikan pedang dihunus dalam arti yang paling nyata—perang yang terus berlangsung di berbagai belahan dunia.
Di tengah kehancuran yang kasatmata, yang kerap muncul justru klaim kemenangan dan penegasan kekuatan.
Dalam situasi seperti itu, yang mengeras bukan hanya konflik, tetapi juga sikap para pemimpin yang terus melangkah maju, seolah mundur adalah tanda kelemahan.
Padahal, setiap keputusan tidak pernah berdiri di ruang kosong; ia selalu berkelindan dengan nasib manusia yang nyata.
Baca juga: Dosa Sejarah Amerika Berulang, Kekeliruan Trump di Perang Iran
Jika kita menoleh ke ruang publik kita sendiri, suasananya tidak jauh berbeda, meski dalam bentuk lain. Tegang, cepat panas, dan mudah tersulut.
Pedang memang tidak selalu tampak. Ia hadir dalam kata-kata yang tajam, label yang merendahkan, atau cara berpikir yang menutup ruang bagi perbedaan.
Kritik semakin sering dibaca sebagai ancaman. Perbedaan pandangan tidak lagi diperlakukan sebagai bagian wajar dari kehidupan bersama, melainkan sesuatu yang harus diluruskan—bahkan dilawan.