India mulai kembali mengimpor minyak mentah dari Iran. Hal tersebut dilakukan di tengah gangguan pasokan energi menyusul blokade jalur pelayaran tanker minyak akibat konflik dari negara terkait dengan Israel dan Amerika Serikat.
Kementerian Perminyakan India menyatakan bahwa kilang domestik telah mengamankan kebutuhan minyak mentah, termasuk dari Iran. Ia mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan tanpa kendala pembayaran.
Baca Juga: Buntut Perang Iran, Trump Lakukan Reshuffle Kabinet Besar-Besaran
“Di tengah gangguan pasokan, kilang kami telah mengamankan kebutuhan minyaknya, termasuk dari Iran,” kata Kementerian Perminyakan India di X.
India menegaskan bahwa kebutuhan minyak mentah untuk beberapa bulan ke depan telah terpenuhi. Negara tersebut mengimpor minyak dari lebih dari empat puluh negara, memberikan fleksibilitas tinggi bagi perusahaan untuk memilih sumber pasokan berdasarkan pertimbangan komersial.
India juga membeli sekitar 44.000 metrik ton liquefied petroleum gas (LPG) dari Iran. Ia dikirim menggunakan kapal yang sebelumnya dikenai sanksi. Kargo tersebut dilaporkan telah bersandar di pelabuhan Mangalore.
Langkah ini menandai kembalinya impor minyak dari negara terkait oleh India sejak Mei 2019. Amerika Serikat saat itu membuat banyak negara menghentikan pembelian minyak dari Teheran. Namun, gangguan pasokan akibat konflik kini mendorongnya untuk mencari sumber energi alternatif guna menjaga stabilitas pasokan domestik.
Keputusan India untuk kembali membeli minyak dari negara tersebut menjadi sinyal penting bagi pasar energi global. Kebijakan ini berpotensi membantu menstabilkan pasokan di tengah ketidakpastian geopolitik, sekaligus menunjukkan pergeseran strategi energi negara-negara besar dalam menghadapi krisis global.
Diketahui, Amerika Serikat baru-baru ini memberikan kelonggaran sementara terhadap sanksi minyak terhadap Iran. Ia diberlakukan selama tiga puluh hari, termasuk untuk transaksi pembelian di laut.
Baca Juga: Indonesia–Korea Perkuat Kerja Sama Sektor Minyak dan Gas Bumi
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent menyatakan bahwa kebijakan ini berpotensi menambah sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global dan membantu meredakan tekanan pasokan energi.




