FAJAR, WASHINGTON—Presiden AS Donald Trump pada hari Sabtu mengatakan Teheran memiliki waktu 48 jam lagi untuk membuat kesepakatan atau menghadapi “neraka” jika tidak membuka Selat Hormuz untuk pelayaran komersial.
Namun, komando militer pusat Iran pada hari Sabtu menolak ancaman Trump, dengan Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi mengatakan ancaman Trump adalah “tindakan yang tidak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh”.
Perkembangan ini terjadi ketika pasukan AS dan Iran berupaya keras mencari pilot Amerika yang jatuh.
Teheran mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka telah menembak jatuh pesawat tempur F-15 dan media AS melaporkan bahwa pasukan khusus Amerika Serikat telah menyelamatkan salah satu dari dua awaknya, sementara yang lainnya masih hilang.
Militer Iran juga mengatakan telah menembak jatuh pesawat serang darat A-10 AS di Teluk, dengan media Amerika mengatakan pilot pesawat itu telah diselamatkan.
Sementara itu, serangan di dekat pembangkit nuklir Bushehr Iran pada hari Sabtu menewaskan seorang penjaga dan menyebabkan Rusia, yang sebagian membangun fasilitas tersebut dan membantu mengoperasikannya, mengumumkan bahwa mereka akan mengevakuasi 198 pekerja dari fasilitas tersebut.
Bushehr jauh lebih dekat ke Kuwait, Bahrain, dan Qatar daripada ke ibu kota Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa serangan berkelanjutan terhadap pembangkit di pantai selatan tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan jatuhan radioaktif yang akan mengakhiri kehidupan di ibu kota GCC (Dewan Kerja Sama Teluk).
“Bukan Teheran,” tegasnya dikutip dari RTHK. (amr)





