Lebaran sering disebut sebagai momen paling hangat dalam setahun. Semua orang berkumpul, saling memaafkan, berbagi makanan, dan mempererat silaturahmi. Di ruang tamu, percakapan mengalir ringan. Di meja makan, hidangan tersaji berlimpah. Semuanya tampak sempurna.
Namun, di balik kesempurnaan itu, ada realitas yang jarang dibicarakan.
Tidak semua orang menikmati Lebaran dengan cara yang sama.
mereka yang duduk santai, mengobrol, dan disambut sebagai tamu kehormatan. Tapi ada juga yang sejak pagi sudah sibuk berada di dapur untuk memasak, mencuci piring, bolak-balik menyiapkan kebutuhan, sering kali tanpa benar-benar punya waktu untuk ikut menikmati momen itu sendiri.
Fenomena ini kerap dianggap biasa. Bahkan sering dibungkus dengan alasan “sudah tugasnya” atau “memang kebiasaan keluarga”. Tetapi jika kita melihat lebih dalam, pembagian peran ini tidak selalu netral.
Ada pola yang berulang.
Mereka yang memiliki posisi lebih tinggi—baik secara usia, status keluarga, maupun kondisi ekonomi—cenderung berada di ruang depan: terlihat, dihormati, dan dilayani. Sementara mereka yang berada di posisi yang lebih “lemah”, baik secara ekonomi maupun relasi kuasa, lebih sering berada di ruang belakang: bekerja, mengurus, dan memastikan semuanya berjalan lancar.
Ini bukan sekadar soal siapa yang memasak atau siapa yang menyambut tamu. Ini tentang bagaimana nilai seseorang, secara tidak langsung, sering kali diukur dari apa yang ia miliki.
Ketika seseorang dianggap “lebih berhasil”, ia diberi ruang untuk dihormati. Ketika seseorang berada di kondisi ekonomi yang lebih terbatas, perannya sering kali bergeser menjadi pendukung—yang keberadaannya penting, tetapi jarang disorot.
Yang menarik, semua ini berjalan tanpa perlu disepakati secara eksplisit.
Ia hidup dalam kebiasaan.
Dalam diam, kita mewarisi cara pandang bahwa ada orang yang “layak dilayani” dan ada yang “seharusnya melayani”. Dan tanpa sadar, Lebaran—yang seharusnya menjadi simbol kesetaraan—justru bisa menjadi ruang di mana hierarki sosial itu dipertahankan.
Apakah ini berarti semua tradisi salah? Tidak juga.
Masalahnya bukan pada adanya peran yang berbeda, tetapi pada ketimpangan yang terus diulang tanpa refleksi. Ketika peran tersebut tidak pernah berganti, tidak pernah dinegosiasikan, dan selalu jatuh pada orang yang sama, di situlah ketidakadilan mulai terasa—meskipun dibungkus dalam suasana kekeluargaan.
Lebih jauh lagi, kondisi ini bisa membentuk cara kita memandang orang lain. Kita mulai terbiasa menghargai orang dari penampilannya, pekerjaannya, atau kontribusi materinya. Sementara kerja-kerja domestik yang melelahkan—yang justru memungkinkan semua momen Lebaran berjalan lancar—dianggap sebagai sesuatu yang “biasa saja”.
Padahal, tanpa mereka yang bekerja di balik layar, tidak akan ada “Lebaran yang hangat” seperti yang kita rasakan.
Di titik ini, mungkin kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kebersamaan yang kita rayakan benar-benar setara?
Atau hanya terasa hangat bagi sebagian orang saja?
Lebaran seharusnya menjadi ruang untuk meruntuhkan jarak, bukan memperhalusnya. Ia seharusnya mengajarkan kita untuk saling menghargai tanpa melihat status, bukan justru mempertegas siapa yang lebih “bernilai”.
Perubahan memang tidak harus besar.
Ia bisa dimulai dari hal sederhana: berbagi peran secara lebih adil, tidak membiarkan satu orang terus-menerus berada di dapur, atau sekadar menyadari bahwa setiap kontribusi—baik yang terlihat maupun tidak—memiliki nilai yang sama.
Kesadaran seperti ini mungkin terdengar kecil. Namun, dari situlah cara pandang bisa perlahan berubah.
Karena pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang apa yang kita rayakan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan satu sama lain di dalamnya.
Jika kehangatan hanya dirasakan oleh mereka yang duduk di depan, mungkin yang perlu kita ubah bukan tradisinya—melainkan cara kita memaknainya.





