Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengusung tema “Kepedulian kepada Keutuhan Alam Ciptaan” dalam perayaan Paskah 2026.
Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, menegaskan iman tidak cukup diwujudkan dalam ritual, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata menjaga bumi.
“Bagi umat Kristiani, Paskah itu selalu berarti eksodus keluar, keluar dari perbudakan menuju tanah terjanji, atau kalau lebih simbolik lagi, keluar dari kegelapan berjalan menuju terang,” ujarnya dalam konferensi pers di Katedral Jakarta, Minggu (5/4).
Soroti Konflik GlobalSuharyo menyinggung situasi global yang dipenuhi konflik, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada krisis energi.
Dalam pesan resmi Paskah KAJ 2026 disebutkan:
“Hari-hari ini kita menyaksikan dan merasakan bersama bahwa dunia dalam ketidakpastian. Serangan Israel-Amerika Serikat ke Iran dan dibalas dengan serangan ke Israel membawa dunia dalam potensi krisis energi yang esensial bagi kebutuhan rakyat dunia.”
Ia menegaskan, perang yang terjadi saat ini merupakan pelanggaran hukum internasional.
“Perang yang berlangsung sekarang ini dengan segala macam hal yang mengerikan itu adalah pelanggaran terhadap hukum internasional. Yang ada adalah akibat yang sangat buruk bukan hanya bagi dunia, bagi bumi, tetapi bagi umat manusia,” tegasnya.
Meski demikian, ia meyakini harapan tetap ada di tengah situasi sulit.
“Saya yakin di tengah-tengah kegelapan itu selalu ada kalaupun bukan terang besar tetapi lilin kecil yang menerangi kemanusiaan itu,” katanya.
Hemat Energi dan Ekologi IntegralSuharyo juga menyoroti dampak krisis global terhadap kebijakan energi, sekaligus mengingatkan pentingnya penghematan energi sebagai tanggung jawab moral.
“Mengenai hemat energi, tidak usah disuruh, tidak usah menunggu krisis kita mesti menghemat energi,” ujarnya.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan konsep ekologi integral dalam ajaran sosial Gereja.
"Jadi ekologi integral itu bukan sekadar masalah listrik, air, sampah, pohon, bukan hanya itu. Integral, ekologi integral itu adalah ekosistem dunia. Kalau orang serakah, orang serakah ya, namanya saja tidak bagus," katanya.
Menurutnya, akar krisis lingkungan terletak pada keserakahan manusia.
“Selama dunia ini penuh dengan keserakahan. Apalagi keserakahan itu didukung oleh kekuatan senjata, habislah yang namanya keadaban itu,” tegasnya.
Ia menilai solusi utama bukan hanya teknis, melainkan perubahan moral.
“Maka ekologi integral, pertobatan ekologis itu artinya adalah pertobatan moral, hati nurani. Itu yang paling penting,” ujarnya.
Seruan Aksi NyataSuharyo menegaskan kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan dalam tindakan konkret, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun kebijakan publik.
“Gereja juga memanggil partisipasi sosial umat demi kebijakan dan kebaikan bersama,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya melawan ketidakadilan sosial.
“Setiap upaya yang menghancurkan moral Kristiani harus ditentang. Korupsi, kekerasan, serta kebijakan yang tidak berpihak pada mereka yang lemah dan terpinggirkan,” ujarnya.
Menutup pesannya, Suharyo mengajak umat tetap berpegang pada iman, harapan, dan kasih.
“Keadaan kita, tidak baik-baik saja. Tetapi kita pasti harus tetap berjuang untuk teguh di dalam iman, kokoh di dalam harapan, dan tetap menyala di dalam kasih,” pungkasnya.





