EtIndonesia. Di bawah serangkaian serangan dari Amerika Serikat dan Israel, dua perusahaan baja terbesar Iran menyatakan bahwa pabrik mereka terpaksa berhenti beroperasi. Untuk dapat beroperasi kembali, diperkirakan memerlukan waktu setidaknya 6 bulan hingga 1 tahun.
Dilaporkan bahwa kedua pabrik baja tersebut telah berulang kali menjadi sasaran serangan sejak minggu lalu.
Media “Mizan Online” pada Kamis (2 April) mengutip pernyataan wakil direktur operasional Perusahaan Baja Khuzestan, Mehran Pakbin, yang mengatakan: “Perkiraan awal kami, untuk menghidupkan kembali fasilitas ini membutuhkan waktu minimal 6 bulan, bahkan bisa sampai satu tahun.”
Sementara itu, Perusahaan Baja Mobarakeh di Provinsi Isfahan, Iran tengah, juga menyatakan bahwa setelah mengalami serangan besar-besaran, “lini produksi telah sepenuhnya terhenti.”
Sebagai balasan, Islamic Revolutionary Guard Corps kemudian melancarkan serangan rudal dan drone ke berbagai wilayah serta kawasan industri di Israel. Mereka juga mengancam akan melakukan aksi balasan lebih lanjut jika serangan serupa kembali terjadi.
Presiden Donald Trump sebelumnya dalam pidatonya kepada publik mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan intensitas serangan terhadap Iran. Ia juga pernah menyatakan bahwa perang ini kemungkinan dapat diakhiri dalam waktu 2 hingga 3 minggu.
Pada 2 April, Trump menulis di platform media sosial miliknya, Truth Social, bahwa militer AS “bahkan belum mulai menghancurkan target-target Iran yang tersisa. Selanjutnya adalah jembatan, lalu pembangkit listrik!”
Beberapa jam sebelumnya, jembatan tertinggi di Iran dilaporkan telah dihancurkan. (Hui)
Sumber : NTDTV.com





