Demi Meredakan Tekanan AS, Kuba Membebaskan 2.010 Tahanan

erabaru.net
12 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Di tengah krisis ekonomi yang melanda Kuba, pengiriman minyak mentah pertama tahun ini baru saja tiba di ibu kota, Havana. Pemerintah Kuba pada Kamis (2 April) mengumumkan akan membebaskan 2.010 tahanan, namun identitas mereka yang dibebaskan belum diketahui. Ini merupakan kedua kalinya tahun ini pemerintah Kuba mengumumkan pemberian amnesti.

Media resmi Kuba, Granma, menyebut langkah ini sebagai “tindakan kemanusiaan dan kedaulatan”.

Menurut laporan Reuters yang mengutip Granma, keputusan untuk membebaskan 2.010 tahanan “didasarkan pada analisis menyeluruh terhadap kejahatan yang dilakukan para terpidana, perilaku baik mereka di penjara, lamanya masa hukuman yang telah dijalani, serta kondisi kesehatan mereka.”

Pembebasan ini merupakan salah satu amnesti terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Hingga saat ini, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat belum memberikan tanggapan.

Waktu pembebasan tahanan ini bertepatan dengan meningkatnya tekanan Amerika Serikat terhadap Kuba—yang disebut sebagai yang paling berat dalam beberapa dekade terakhir. Namun, pemerintah Kuba secara konsisten membantah bahwa keputusan mereka dipengaruhi oleh tekanan dari AS.

Sehari sebelumnya, diplomat tertinggi Kuba di Washington secara terbuka mengundang pemerintah AS untuk membantu memulihkan ekonomi Kuba yang sedang melemah. Hal ini merupakan bagian dari negosiasi yang sedang berlangsung, meskipun belum menghasilkan kesepakatan.

Saat ini belum jelas, dari lebih dari 2.000 tahanan yang dibebaskan tersebut, berapa banyak yang dipenjara karena kejahatan umum atau terkait dengan tuduhan dalam aksi protes anti-pemerintah.

Sebelumnya, setelah Amerika Serikat melonggarkan pembatasan terhadap pasokan minyak ke Kuba, sebuah kapal tanker yang dikenai sanksi bernama Anatoly Kolodkin berlayar dari Rusia selama tiga minggu dan pada pagi hari 31 Maret tiba di pelabuhan Matanzas, sebelah timur Havana, dengan membawa sekitar 730.000 barel minyak mentah.

Ini merupakan pengiriman minyak mentah pertama ke negara pulau yang sedang dilanda krisis tersebut sejak Januari tahun ini.

Presiden Donald Trump sebelumnya pernah menyatakan mempertimbangkan untuk “mengambil alih” Kuba, namun ia juga mengatakan tidak menentang Rusia atau negara lain mengirimkan minyak ke Kuba, karena rakyat Kuba “harus bisa bertahan hidup.” (Hui)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Seruan Perdamaian dari Katedral Jakarta di Tengah Gejolak Global
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pesawat Tempur AS Dilaporkan Diserang, Seorang Pilot Berhasil Diselamatkan, Nasib Pilot Lainnya Belum Diketahui
• 11 jam laluerabaru.net
thumb
Momen Prabowo Cium Kening Anak Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Massa Memadati Kedubes AS, Kenang Tiga Prajurit TNI Gugur
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hector Souto Targetkan Timnas Futsal Lolos Semifinal Piala AFF
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.