Pertumbuhan ekonomi Vietnam melambat pada kuartal pertama 2026 di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu jalur perdagangan global. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Sekretaris Jenderal To Lam dalam mengejar target pertumbuhan dua digit.
Produk domestik bruto (PDB) Vietnam tumbuh 7,83 persen secara tahunan pada kuartal I, turun dari 8,46 persen pada kuartal IV 2025. Meski melambat, angka ini masih lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 7,6 persen.
“Kondisi global pada kuartal I 2026 masih kompleks dan tidak dapat diprediksi, dengan konflik di Timur Tengah yang mendorong volatilitas harga energi, gangguan pasokan, serta peningkatan inflasi,” kata kantor statistik dalam pernyataannya dikutip dari Bloomberg, Minggu (5/4).
Vietnam yang masih menargetkan pertumbuhan 10 persen tahun ini kini menghadapi tekanan dari kenaikan harga bahan bakar dan terganggunya pasokan akibat perang Iran. Konflik tersebut bahkan menghambat distribusi minyak dan gas melalui Selat Hormuz. Pemerintah pun telah menggunakan dana cadangan energi untuk menahan lonjakan harga, sementara maskapai penerbangan mulai mengurangi jadwal akibat kelangkaan bahan bakar jet.
Kepala Departemen PDB Kantor Statistik Vietnam, Nguyen Thi Mai Hanh, menilai target pertumbuhan tersebut tidak mudah dicapai. "Apalagi ekonomi Vietnam harus tumbuh di atas 10 persen pada setiap kuartal tersisa untuk memenuhi target tahunan," katanya.
Tekanan inflasi juga mulai meningkat. Pejabat yang mengurusi inflasi, Nguyen Thu Oanh, menjelaskan pada Maret, inflasi tercatat 4,65 persen secara tahunan, melampaui target pemerintah sebesar 4,5 persen.
“Jika harga bahan bakar global terus naik, maka harga domestik akan memberi tekanan tambahan pada inflasi sekitar 1 hingga 2 poin persentase. Target inflasi 4,5 persen tahun ini akan semakin sulit dicapai,” katanya.
Secara bulanan, inflasi naik 1,23 persen pada Maret, dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar, transportasi, dan biaya konstruksi.
Di tengah tekanan tersebut, sektor manufaktur tetap menjadi penopang utama ekonomi dengan pertumbuhan 9,73 persen pada kuartal I. Ekspor Vietnam juga melonjak sekitar 20,1 persen pada Maret dibanding tahun sebelumnya, sementara impor naik 27,8 persen.
Vietnam mencatat surplus perdagangan sebesar USD 33,9 miliar dengan Amerika Serikat pada kuartal pertama, naik 24,2 persen dibanding tahun lalu, menunjukkan semakin besarnya pergeseran rantai pasok global ke negara tersebut.
Perdana Menteri Pham Minh Chinh sebelumnya telah mengingatkan adanya tekanan terhadap inflasi, suku bunga, dan energi akibat konflik global. Sementara itu, Gubernur bank sentral Nguyen Thi Hong menegaskan pemerintah tidak akan mengorbankan stabilitas ekonomi demi pertumbuhan jangka pendek.
Untuk menjaga pasokan energi, Vietnam menghentikan sementara sejumlah pajak atas bensin, minyak, dan bahan bakar jet hingga 15 April. Pemerintah juga mendorong percepatan transisi ke kendaraan listrik dan biofuel guna mengurangi ketergantungan pada energi impor.
Selain itu, pemerintah mengandalkan belanja infrastruktur besar-besaran untuk menopang pertumbuhan, termasuk proyek Bandara Internasional Long Thanh yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV tahun ini.





