Sebulan Perang AS-Iran: Rial Loyo Lawan Dolar, Naik Tipis dari Rupiah

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNCB Indonesia - Jakarta, CNBC Indonesia - Genap sebulan perang Amerika Serikat (AS) dan Iran, tekanan di pasar keuangan Iran belum juga mereda. Salah satu cerminan paling jelas terlihat dari nilai tukar rial Iran yang tetap terpuruk, baik saat melawan dolar Amerika Serikat (AS) maupun ketika dibandingkan dengan rupiah.

Mata uang Iran itu memang tidak lagi jatuh sedramatis fase awal tahun. Namun, selama perang berlangsung, rial tetap bertahan di level yang sangat lemah. Ini menandakan bahwa konflik bersenjata tidak memberi ruang pemulihan bagi mata uang Iran, melainkan justru menjaga tekanan tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Melansir data Refinitiv, pada awal pecahnya perang yakni 28 Februari 2026, kurs dolar AS terhadap rial Iran berada di level 1.313.863 rial per US$1. Sementara itu pada penutupan terakhir, Jumat (4/4/2026), nilainya berada di 1.316.135 rial per US$1.

Baca: Jangan Senang Dulu Selat Hormuz Dibuka, Bahaya Tetap Mengintai!

Artinya, selama kurang lebih sebulan perang berlangsung, rial Iran masih melemah sekitar 0,17% terhadap dolar AS.

Baca: Soroti Krisis Energi, Pakar Ingatkan Ekonomi Bisa Tumbuh di Bawah 5%

Secara persentase, pelemahan itu memang terlihat tipis. Namun yang jauh lebih penting, rial tetap bertahan di level yang sangat rapuh, yakni di atas 1,31 juta per dolar AS.

Dengan kata lain, perang sebulan terakhir memang belum memicu gelombang pelemahan baru yang ekstrem, tetapi juga sama sekali belum mampu membawa mata uang Iran keluar dari jurang keterpurukan.

Sepanjang periode perang tersebut, pergerakan rial Iran terhadap dolar AS juga cenderung berkutat di kisaran sempit, tetapi tetap lemah. Kurs terburuk sempat menyentuh 1.321.780 rial per US$1 pada 11 Maret 2026, sementara level terkuat dalam periode itu hanya berada di 1.310.814 rial per US$1 pada 25 Maret 2026.

Ini berarti sepanjang perang, fluktuasi hariannya memang tidak terlalu liar, tetapi seluruh pergerakan terjadi dalam posisi yang sudah sangat tertekan.

Terhadap Rupiah, Rial Menguat Tipis Selama Perang

Berbeda dengan pergerakannya terhadap dolar AS, rial Iran justru menguat tipis terhadap rupiah selama periode sebulan perang.

Berdasarkan data Refinitiv, pada 27 Februari 2026 nilai 1 rial Iran tercatat setara Rp0,0128. Sementara pada penutupan perdagangan Jumat (3/4/2026), nilainya naik menjadi Rp0,0129 per rial.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa selama periode perang, rial Iran menguat sekitar 0,78% terhadap rupiah.

Namun, penguatan tersebut sangat terbatas. Nilai tukar rial terhadap rupiah masih berada di kisaran yang sangat rendah, yakni hanya sekitar Rp0,0128-Rp0,0129 per rial. Artinya, meski secara teknis rial menguat tipis, levelnya masih menunjukkan bahwa mata uang Iran tetap sangat lemah.

Baca: Negara yang Paling Dibenci Trump Justru Cuan di Era AI, AS Kalah!

Bagi perekonomian Iran, situasi ini jelas tidak ringan. Nilai tukar yang sangat lemah akan memperbesar tekanan harga barang impor, memperburuk inflasi, dan mengikis kepercayaan publik terhadap mata uang domestik.

Dalam kondisi perang, tekanan seperti ini menjadi jauh lebih sulit diredam karena ketidakpastian meningkat, arus modal cenderung menjauh, dan permintaan terhadap aset aman seperti dolar AS tetap tinggi.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gunung Semeru Erupsi Disertai Luncuran Awan Panas Sejauh 3,5 Km
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
20 Soal TKA Bahasa Indonesia SMP 2026, Jangan Tunda Latihanya Ya!
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Tiga Jenazah Prajurit TNI Gugur di Lebanon Diterbangkan ke Rumah Duka
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Jadwal Final Four Proliga 2026 Seri Surabaya, Minggu 5 April: LavAni Hadapi Samator, Gresik Phonska vs Jakarta Electric PLN
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
UEA Cegat Serangan Udara, Puing Pesawat Jatuh Picu Kebakaran, 12 Orang Terluka
• 4 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.