Insiden Kekerasan Serius Sering Terjadi, Analisis: Akar Masalah Ada pada Sistem Birokrasi PKT

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Baru-baru ini, berbagai insiden kekerasan seperti pembunuhan dan penabrakan dengan kendaraan terjadi di berbagai wilayah Tiongkok, menarik perhatian publik. Pihak berwenang dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyatakan akan “mencegah secara ketat terjadinya kasus ekstrem”. Namun, analis berpendapat bahwa sumber meningkatnya kekerasan sosial adalah sistem birokrasi PKT, dan jika ingin mencegah dari akarnya maka harus mengakhiri rezim.

Menurut laporan media resmi PKT pada 2 April, anggota Politbiro Chen Wenqing saat melakukan inspeksi di Liaoning menyatakan bahwa perlu dilakukan “pemeriksaan menyeluruh” terhadap berbagai potensi risiko, serta mencegah secara ketat terjadinya kasus ekstrem, demi menjaga stabilitas sosial.

Pernyataan tersebut muncul di tengah seringnya terjadi insiden kekerasan di berbagai daerah.

Pada 31 Maret sekitar pukul 10 pagi, terjadi serangan dengan pisau di Jalan Qingsong, Wuhan, Provinsi Hubei. Seorang pria menyerang pejalan kaki secara acak, menyebabkan  4 orang terluka. Polisi setempat kemudian menyatakan bahwa pelaku telah diamankan dan para korban telah dibawa ke rumah sakit.

Pada 29 Maret siang hari, di pasar pedesaan “Dahanji Market” di Kota Zhoukoudian, Distrik Fangshan, Beijing, seorang pria paruh baya mengendarai buldoser beroda empat dan menabrak kerumunan. Banyak kios hancur, sejumlah orang tergeletak di tanah, dan darah terlihat di mana-mana. Saksi mata menyebutkan bahwa 7 hingga 8 orang tewas di tempat.

Seorang pedagang di lokasi mengungkapkan kepada media bahwa pengemudi tersebut berasal dari Liaoning. Ia diduga mengalami masalah pembongkaran paksa dan pengaduan yang tidak terselesaikan selama bertahun-tahun, yang akhirnya membuatnya kehilangan kendali emosi dan menyebabkan tragedi. Namun demikian, pihak berwenang menutup informasi terkait. Hingga kini belum ada laporan resmi.

Selain itu, pada 28 Maret, terjadi kasus pembunuhan di dekat Taman Rakyat Xiangcheng, Provinsi Henan, di mana seorang pelajar menikam pelajar lainnya hingga tewas di tempat.

Pada 26 Maret, seorang wanita di kawasan pejalan kaki Dongmen, Distrik Luohu, Shenzhen, melakukan serangan acak dengan pisau, dilaporkan melukai beberapa pelajar. Pelaku kemudian ditangkap, tetapi pihak berwenang menutup rapat informasi, dan jumlah korban hingga kini belum diketahui.

Pada 22 Maret malam, di Guanyinqiao, Chongqing, terjadi insiden kendaraan menabrak pejalan kaki, menyebabkan beberapa orang terjatuh.

Menanggapi maraknya insiden kekerasan di berbagai wilayah Tiongkok, seorang perwakilan Aliansi Pengacara HAM Tiongkok di luar negeri, Wu Shaoping, mengatakan kepada New Tang Dynasty bahwa meningkatnya kekerasan sosial merupakan akibat dari tekanan sosial yang terakumulasi.

Ia menjelaskan bahwa di tengah tekanan ekonomi yang meningkat, banyak warga menghadapi kesulitan hidup dan tidak memiliki saluran untuk melampiaskan ketidakpuasan, yang kemudian berkembang menjadi tindakan ekstrem. 

Wu Shaoping  juga menilai bahwa pihak berwenang tidak menyelesaikan masalah dari sisi sistem, seperti ketidakadilan hukum dan pelanggaran hak, melainkan terus memperkuat kontrol dan stabilitas keamanan. Hal ini menyebabkan insiden kekerasan semakin meningkat. Menurutnya, untuk menyelesaikan masalah dari akar, diperlukan perubahan sistem politik. (Hui)

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ingatkan Aparat Penegak Hukum Soal KM 50, Ulama Ciamis: Masih Banyak Pertanyaan
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Preview Bhayangkara FC vs Persija: Misi Bangkit Macan Kemayoran di Derby Jakarta
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Gresik Phonska Plus Kalahkan Electric PLN 3-0
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
KRI Raden Eddy Martadinata-331 Tuntaskan Latma Kakadu 2026 dan Perkuat Kesiapan Tempur di Ambon
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Sampaikan Terima Kasih ke Presiden Prabowo, Pedagang Buah di Solo: Penjualan Jadi Lebih Lancar
• 6 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.