FAJAR, MAKASSAR –Di tengah tekanan yang kian menebal di Makassar, sebuah isyarat kecil justru datang dari jauh. Bukan dari ruang ganti, bukan pula dari pinggir lapangan, melainkan dari kolom komentar media sosial. Di sanalah Asnawi Mangkualam meninggalkan jejak—sebuah gestur sederhana, namun cukup untuk memantik imajinasi banyak orang.
Ia tidak menulis kalimat panjang. Hanya simbol, hanya isyarat. Tetapi dalam sepak bola, hal-hal kecil sering kali dibaca lebih dalam dari yang tampak.
Bagi PSM Makassar, momen itu datang di saat yang nyaris ironis. Tim ini sedang berjuang keluar dari periode paling sulit musim ini. Hasil imbang 1-1 melawan Persis Solo bukan hanya soal kehilangan dua poin, tetapi juga kelanjutan dari tren yang mengkhawatirkan.
Tujuh laga tanpa kemenangan.
Dalam rentang itu, PSM seperti kehilangan sesuatu yang dulu menjadi identitasnya: ketahanan. Mereka masih mampu menciptakan momen—seperti gol sundulan Yuran Fernandes dari situasi bola mati yang dirancang oleh Victor Luiz. Namun setelah itu, cerita yang sama berulang. Intensitas menurun, kontrol permainan mengendur, dan keunggulan perlahan menguap.
Di sinilah persoalan mulai bergeser dari teknis ke mental.
Pelatih Ahmad Amiruddin tak lagi hanya bicara soal taktik. Ia menyinggung sesuatu yang lebih mendasar: karakter. Dalam situasi tertekan, tim membutuhkan lebih dari sekadar skema permainan. Mereka membutuhkan sosok yang mampu menjaga standar—di dalam lapangan, di tengah tekanan.
Dan di tengah kekosongan itu, nama Asnawi terasa relevan.
Bukan semata karena kualitas teknisnya yang kerap disebut berada di atas rata-rata pemain asing di posisinya. Tetapi karena apa yang ia representasikan: energi, determinasi, dan koneksi emosional dengan klub. Sebagai pemain yang tumbuh dari kultur sepak bola Makassar, Asnawi memahami beban sekaligus kebanggaan mengenakan seragam PSM.
Komentarnya di media sosial mungkin sederhana, tetapi respons publik menunjukkan sesuatu yang lebih besar. Harapan. Keinginan untuk melihat sosok yang familiar kembali hadir, bukan hanya sebagai pemain, tetapi sebagai simbol kebangkitan.
Apakah itu kode untuk kembali?
Jawabannya belum tentu. Dalam sepak bola modern, keputusan karier tidak pernah sesederhana emosi. Ada kontrak, ada proyek klub lain, ada pertimbangan profesional yang harus dihitung. Asnawi juga sempat dikaitkan dengan klub-klub besar seperti Persib Bandung—sebuah indikasi bahwa nilainya di pasar tetap tinggi.
Namun sepak bola tidak selalu bergerak dalam logika rasional.
Ada momen ketika sebuah tim membutuhkan lebih dari sekadar pemain baru. Mereka membutuhkan figur yang bisa mengubah suasana—yang mampu mengangkat moral, menghidupkan kembali kepercayaan diri, dan memberi arah di tengah kebingungan.
PSM saat ini berada di titik itu.
Dengan 25 poin dan posisi yang mulai terancam, setiap pertandingan menjadi pertaruhan. Lawan-lawan yang menunggu—termasuk Borneo FC dan PSIM Yogyakarta—bukan sekadar ujian teknis, tetapi juga ujian mental.
Dalam situasi seperti ini, perubahan tidak selalu datang dari strategi baru. Terkadang, ia datang dari kehadiran—dari sosok yang mampu mengingatkan tim tentang siapa mereka sebenarnya.
Asnawi mungkin belum kembali. Bahkan bisa jadi, ia tidak akan kembali dalam waktu dekat. Tetapi satu hal yang pasti: isyarat kecil itu sudah cukup untuk menyalakan percakapan.
Dan bagi PSM Makassar, di tengah musim yang mulai goyah, setiap percikan harapan—sekecil apa pun—selalu berarti.





