Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa dampak radiasi radioaktif dari serangan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr berpotensi mengancam negara-negara Teluk Persia.
“Dampak radiasi akan mengakhiri kehidupan di ibu kota negara-negara GCC, bukan Teheran,” tulis Araghchi melalui platform X yang dilansir Antara, Minggu, 5 April 2026.
Pernyataan itu disampaikan setelah Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) melaporkan bahwa fasilitas PLTN Bushehr menjadi sasaran serangan yang menyebabkan satu karyawan tewas.
Araghchi juga menyinggung reaksi internasional terhadap konflik di sekitar PLTN Zaporizhzhia di Ukraina, dengan membandingkannya dengan situasi di Bushehr.
Iran menyatakan bahwa PLTN Bushehr telah diserang beberapa kali dalam beberapa pekan terakhir. AEOI mencatat serangan terjadi pada 17, 24, dan 27 Maret.
Selain itu, Iran juga melaporkan serangan terhadap sejumlah fasilitas nuklir lainnya, termasuk Natanz, Khondab, dan Ardakan.
Teheran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik serangan-serangan tersebut.
Konflik di kawasan meningkat sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan ke wilayah Israel dan aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Hingga kini, belum ada konfirmasi independen terkait dampak radiasi dari insiden di PLTN Bushehr tersebut.
Baca juga: Rusia Evakuasi Ratusan Pekerja dari PLTN Bushehr Iran yang Terkena Serangan




