Muzani Puji Muhammadiyah: Bangun Sekolah-Rumah Sakit, Ambil Alih Peran Negara

kumparan.com
19 jam lalu
Cover Berita

Ketua MPR, Ahmad Muzani, memuji peranan besar Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa. Dia menilai, Muhammadiyah bahkan telah mengambil alih peran yang seharusnya dilakukan negara.

Hal tersebut disampaikan Muzani dalam Silaturahmi dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah di kawasan Ngampilan, Yogyakarta, Minggu (5/4).

"Cinta Muhammadiyah terhadap Indonesia, luar biasa. Begitu cintanya Muhammadiyah terhadap Republik Indonesia ini, support dan dukungan terus diberikan kepada siapa pun yang memerintah negeri ini," kata Muzani.

"Pendidikan Muhammadiyah, sekolah Muhammadiyah, rumah sakit Muhammadiyah, panti asuhan Muhammadiyah, dan semua amal Muhammadiyah tidak berhenti kepada siapa pun pemerintah yang memimpin negeri ini," sambungnya.

Muzani menjelaskan, sektor pendidikan, kesehatan, serta penanganan fakir miskin, sebenarnya merupakan tanggung jawab negara. Namun dalam praktiknya, Muhammadiyah turut menjalankan peran tersebut melalui berbagai amal usaha.

“Muhammadiyah mengambil alih tanggung jawab yang diberikan yang harusnya menjadi tanggung jawab negara, menjadi tanggung jawab organisasi. Dan itu tidak mudah,” ungkapnya.

Menurutnya, Muhammadiyah berperan dalam membantu pemerintah untuk menanggung biaya pendidikan hingga penanganan fakir miskin. Tanpa bantuan Muhammadiyah, anggaran negara tak akan cukup untuk menangani itu semua.

“Karena kemampuan negara untuk menyekolahkan anak-anak dan rakyatnya tidak mungkin bisa kuat dengan APBN seperti sekarang ini meskipun ada beban 20 persen dari total APBN. Kemampuan pemerintah untuk menanggung biaya pendidikan seluruhnya juga tidak mungkin ditanggung seluruhnya oleh pemerintah. Demikian juga dengan penanganan fakir miskin, yatim piatu, dan anak-anak telantar,” papar Muzani.

Muzani menilai, kontribusi tersebut sudah dilakukan Muhammadiyah jauh sebelum Indonesia merdeka dan terus berlanjut hingga kini.

Politikus Gerindra itu mengatakan, sejak awal Muhammadiyah berdiri telah menempatkan pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial sebagai pilar utama gerakannya.

“Dalam sejarah, dari awal perhatian Muhammadiyah terhadap pendidikan begitu besar. Terhadap persoalan kesehatan begitu besar. Dan terhadap penanganan masalah yatim dan penanganan fakir miskin begitu besar. Tiga itulah yang menjadi concern Muhammadiyah sejak berdirinya sampai sekarang,” tutur dia.

Muzani juga menyinggung langkah pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat peran negara di sektor pendidikan melalui program Sekolah Rakyat.

“Itu sebabnya Presiden Prabowo menerjemahkan penanganan negara dalam hal penanganan fakir miskin, yatim piatu, dan anak-anak telantar, dalam hal mendapatkan perlindungan dari negara dan pendidikan, diterjemahkan dengan membangun Sekolah Rakyat,” kata Muzani.

“Sekolah Rakyat adalah cara atau ijtihad politik dari presiden untuk menerjemahkan pasal-pasal ini, dan pemerintah melakukan tindakan nyata agar ada tindakan langsung dari pemerintah dalam hal menanggulangi fakir miskin dan anak-anak telantar dalam hal pendidikan,” lanjut dia.

Ingatkan Tetap Jaga Idealisme

Meski begitu, Muzani juga mengingatkan agar Muhammadiyah tetap menjaga nilai-nilai idealisme dan tidak terjebak dalam pragmatisme.

“Pesan saya, tetaplah berpegang teguh pada tradisi Muhammadiyah. Hidup sederhana, teruslah memegang amanah dengan baik, dan jangan tergoda dengan pragmatisme,” ucap Muzani.

“Orang Muhammadiyah terkenal dengan orang-orang yang hidup sederhana. Orang Muhammadiyah terkenal dengan amanah dalam mengemban harta yang dititipkan. Tapi meskipun demikian, kadang-kadang ada kepentingan-kepentingan pragmatisme, dan itu kita harus mampu berusaha untuk menghindari pragmatisme,” lanjut dia.

Ia menilai, menjaga idealisme menjadi kunci agar organisasi tetap konsisten dalam perjuangan.

“Kalau kita bisa menghindari pragmatisme, maka kita akan tetap dapat menjaga idealisme. Dan idealisme itu adalah cara kita menjaga kemurnian tujuan perjuangan kita,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa kritik yang disampaikan tokoh Muhammadiyah terhadap pemerintah tidak mengurangi peran organisasi tersebut dalam membangun bangsa.

“Itu sebabnya, tidak ada pengkhianatan Muhammadiyah dalam negeri ini, meskipun dalam catatan banyak pribadi-pribadi kekecewaan terhadap pemerintahan terus berlangsung,” kata Muzani.

“Di zaman Orde Baru, kritik yang diberikan oleh Profesor Amien Rais luar biasa. Itu tidak menyebabkan Muhammadiyah berhenti berkiprah untuk bangsa,” sambungnya.

Singgung Pentingnya Jaga Persatuan

Muzani pun menekankan pentingnya persatuan dalam menjaga keberlanjutan pembangunan bangsa.

“Kekuatan bangsa ini adalah kekuatan kita bersama. Kekuatan persatuan adalah kekuatan kita semua. Hanya dengan persatuan, Muhammadiyah bisa terus membangun. Hanya bisa dengan persatuan, ada pembangunan. Hanya dengan ada persatuan, ada perekonomian tumbuh. Tanpa persatuan itu tidak mungkin,” ujar dia.

Muzani lalu membandingkan keadaan Indonesia saat ini dengan negara-negara Timur Tengah yang tengah mengalami konflik.

“Kita bisa duduk seperti ini karena ada persatuan, ada silaturahmi, ada kebersamaan, kita saling menghormati, ada toleransi. Tidak mungkin seperti ini terjadi sekarang ini di Iran. Tidak mungkin seperti ini terjadi di Lebanon. Karena itu teruslah menjaga persatuan bangsa. Teruslah menjaga kebersamaan,” kata Muzani.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Minta Akademisi Kampus Berperan Atasi Problem Tata Kota di Indonesia
• 54 menit laluliputan6.com
thumb
Purbaya Proyeksi Pertumbuhan Kredit Perbankan Bisa Capai 20%, Terdorong Dana SAL
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Kenaikan Tiket Pesawat Domestik Diawasi Ketat, Pemerintah Tetapkan Batas 13 Persen
• 4 jam laludisway.id
thumb
Maarten Paes Ketiban Apes, Ajax Amsterdam Tumbang di Kandang, Steven Berghuis Ngamuk Semprot Skuad: Berantakan!
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemala Run Bhayangkari 2026 Jadi Ajang Sport Tourism di Bali
• 23 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.