JAKARTA, KOMPAS.TV - Eks anggota United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 2010-2011, Serma (Purn) Muhtar Efendi menyampaikan pengalamannya selama bertugas di Lebanon sebagai pasukan penjaga perdamaian.
Ia menjelaskan, pasukan penjaga perdamaian memiliki tugas menjaga perdamaian yang sudah dibuat berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701 tanggal 11 Agustus 2006, yakni agar resolusi tersebut betul-betul dilaksanakan kedua belah pihak.
Menurut informasi dari laman PBB, Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701 bertujuan mengakhiri permusuhan antara Hizbullah dan Israel, dengan Dewan Keamanan menyerukan gencatan senjata permanen yang didasarkan pada pembentukan zona penyangga.
Namun, ungkap Muhtar, sering ada pihak yang tidak mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut.
"Pada kenyataannya, selama kami pun di sana, ada pihak yang memang tidak menaati resolusi tersebut, yaitu kalau boleh saya katakan, itu adalah Israel," ujarnya dalam program Kompas Malam KompasTV.
Ia mengatakan Israel selalu melakukan kegiatan-kegiatan yang memancing letupan dan membuat perang dengan Lebanon pecah.
Baca Juga: 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Ini Pesan SBY bagi Personel yang Masih Berada di Lokasi
Muhtar mengungkap, selama pengalamannya sebagai pasukan penjaga perdamaian di Lebanon, ada drone-drone Israel yang masuk ke wilayah Lebanon.
"Sudah barang tentu drone ini diterbangkan oleh Israel selain untuk memantau kegiatan daripada masyarakat Lebanon, juga memplotting dan memapping posisi-posisi atau titik-titik koordinat daripada pasukan-pasukan PBB yang sedang bertugas di Lebanon," ungkapnya.
Terkait gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas di Lebanon, Muhtar menyampaikan bela sungkawa dan duka mendalam.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- unifil
- lebanon
- pasukan penjaga perdamaian
- tni gugur di lebanon
- prajurit tni gugur di lebanon





