Rupiah Tembus Level Psikologis Rp17.000 Per Dolar

tvrinews.com
10 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews, Jakarta

Gejolak Harga Minyak dan Ketegangan Geopolitik Tekan Mata Uang Asia

Nilai tukar rupiah terus menunjukkan volatilitas tinggi dengan bertahan di atas level psikologis baru Rp17.000 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin 6 April 2026. 

Tren pelemahan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga komoditas energi global.

Berdasarkan data pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah dibuka di posisi Rp17.012 per dolar AS pagi ini. 

Tak lama berselang, mata uang Garuda terkoreksi tipis 0,07% ke level Rp17.014. Pergerakan ini melanjutkan tren negatif sejak pekan lalu, di mana rupiah pasar offshore sempat menyentuh angka Rp17.000 saat pasar domestik tutup memperingati libur Jumat Agung dan Paskah.

Sentimen Global dan Krisis Energi

Tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara tunggal. Mata uang regional Asia lainnya, seperti ringgit Malaysia dan yen Jepang, juga mengalami depresiasi serupa akibat melambungnya harga minyak mentah jenis Brent yang kini bertengger di level US$110,69 per barel.

Lonjakan harga energi ini merupakan imbas dari kerusakan infrastruktur vital di Timur Tengah. Meskipun organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC+) berencana menaikkan target produksi sebesar 206 barel per hari pada Mei mendatang, para analis menilai langkah tersebut lebih bersifat simbolis.

"Masalah fundamental saat ini bukan sekadar kuota produksi, melainkan disrupsi pada Selat Hormuz. Selama jalur distribusi utama ini terhambat, ketidakpastian pasokan akan terus menjaga harga minyak di level tinggi," ungkap laporan analisis pasar global.

Risiko Inflasi dan Defisit Transaksi Berjalan

Bagi ekonomi domestik Indonesia, harga minyak yang bertahan jauh di atas asumsi APBN 2026 menjadi tantangan serius. 

Kenaikan harga energi diprediksi akan membengkakkan biaya impor dan memperlebar defisit transaksi berjalan.

Di sisi lain, sektor riil mulai merasakan dampak kenaikan biaya produksi (cost-push inflation). Harga material pendukung seperti plastik dilaporkan telah melonjak hingga 50%, yang berpotensi memicu efek domino pada harga pangan dan minuman di tingkat konsumen.

Jika tekanan inflasi ini terus menguat secara signifikan, Bank Indonesia (BI) dihadapkan pada pilihan sulit. 

Ruang untuk mempertahankan kebijakan suku bunga rendah akan semakin menyempit, yang pada akhirnya dapat menghambat akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional jika daya beli masyarakat mulai tergerus.

Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih berada dalam koridor tren bearish (melemah) untuk jangka menengah. Para analis memproyeksikan pergerakan hari ini akan menuju rentang Rp17.050 hingga Rp17.100 per dolar AS.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PBNU ajak Shalat Ghaib untuk tiga prajurit TNI yang gugur di Lebanon
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Profil 7 Kandidat Ketua DPC PKB Kota Bogor: Pengusaha, Tokoh Agama Hingga Aktivis Pergerakan
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Geber Distribusi ke Wilayah 3T, Pertamina Patra Niaga Kerahkan Armada Logistik Laut
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Mardiono Optimistis PPP Lolos Verifikasi Pemilu & Siap Kawal Program Pemerintah
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Polisi Grebek 2 Kelab Malam di Bali, 10 Orang Ditangkap: Manajer-Pengedar
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.