Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, mengakui bahwa kemampuan militer Hizbullah telah diremehkan sejak awal perang berkecamuk. Mengutip pemberitaan Al Mayadeen pada Minggu, (05/04/2026), Gallant menyoroti adanya celah strategis yang signifikan di dalam tubuh pasukan pendudukan Israel terkait penilaian mereka terhadap kelompok perlawanan Lebanon tersebut.
Yoav Gallant mencatat bahwa kegagalan Hizbullah untuk menanggapi insiden-insiden sebelumnya, termasuk serangan besar pada Oktober 2024 dan Juni 2025, sempat membuat sejumlah pejabat Israel terlena. Hal ini memicu keyakinan keliru di kalangan internal pemerintahan bahwa kelompok tersebut tidak akan melakukan aksi balasan di masa depan.
"Ada kesenjangan antara tujuan yang dinyatakan dan rencana operasional. Kegagalan untuk memasukkan pembongkaran Hizbullah sebagai tujuan yang jelas dalam strategi militer, dibandingkan dengan pernyataan politik yang berbeda, mencerminkan masalah strategis," tegas Gallant.
Mantan Menteri Pertahanan tersebut menekankan bahwa kejelasan dan penyelarasan tujuan dari kepemimpinan politik hingga komando lapangan adalah hal yang esensial. Menurut Gallant, tanpa keselarasan tersebut, operasi militer yang terkoordinasi dan efektif mustahil dapat dicapai dalam menghadapi situasi perang saat ini.
Mengenai operasi darat, Gallant menyatakan bahwa setiap langkah militer yang diambil harus dikaitkan secara langsung dengan jaminan keamanan bagi penduduk Israel di wilayah Utara. Ia mencatat fakta di lapangan bahwa sebagian besar tembakan roket yang menghujani wilayah pendudukan sebenarnya berasal dari daerah-ari di utara Sungai Litani.
"Saya tidak ingat tentara ditugaskan untuk menyeberangi Litani. Setiap kemajuan lebih lanjut secara teoritis dapat meluas lebih jauh menuju perbatasan Suriah," tambah Gallant.
Di sisi lain, Komandan Komando Utara militer Israel (IOF), Ravil Milo, dalam sebuah pertemuan yang bocor dengan para pemukim, mengakui bahwa militer Israel benar-benar terkejut dengan kemampuan Hizbullah dalam membangun kembali kekuatannya. Milo menyebut penilaian pasca-perang Lebanon tahun 2024 yang mengklaim Hizbullah telah dilumpuhkan adalah pandangan yang terlalu optimis.
Milo menyoroti adanya kesenjangan yang semakin lebar antara ekspektasi Israel sebelumnya dengan realitas saat ini. Ia menekankan bahwa Hizbullah tetap mempertahankan kehadiran fisik sekaligus kemampuan operasional yang mematikan di wilayah perbatasan.
Senada dengan itu, pensiunan Mayor Jenderal Giora Eiland mengakui bahwa Israel kini menghadapi dilema strategis di dua front sekaligus, yakni Iran dan Lebanon. Eiland memperingatkan bahwa perang yang berkepanjangan dapat menempatkan Israel dalam posisi yang sangat sulit, terutama jika serangan rudal terus berlanjut selama berbulan-bulan tanpa henti.
"Iran menolak negosiasi karena mereka beroperasi dari posisi yang kuat. Jika gencatan senjata gagal, Israel akan menghadapi tekanan signifikan karena harus bertempur sendirian," ungkap Eiland.
Pernyataan-pernyataan dari para petinggi militer ini muncul di tengah serangan Israel yang masih berlangsung di Lebanon, bersamaan dengan agresi Amerika Serikat-Israel yang menargetkan Iran dan infrastruktur sipilnya. Sebagai tanggapan, pasukan Iran terus melanjutkan operasi militer mereka di bawah panji Operation True Promise 4.
Sementara itu, kelompok perlawanan Islam Hizbullah dilaporkan terus menghalau serbuan tentara Israel di Lebanon Selatan. Selain pertahanan darat, Hizbullah juga gencar melancarkan serangan balasan ke wilayah Utara hingga jauh ke dalam wilayah pendudukan Palestina.
(tps/tps) Add as a preferred
source on Google




