Kinerja Bank Mandiri dinilai tetap positif pada awal 2026, ditopang strategi ekspansi kredit yang agresif di tengah kondisi ekonomi yang masih dibayangi kehati-hatian. Berdasarkan laporan keuangan per Februari 2026, penyaluran kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.513,1 triliun atau tumbuh 15,7% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menilai pertumbuhan tersebut lebih didorong oleh strategi agresif perseroan dalam menyalurkan kredit, bukan semata karena peningkatan permintaan pasar.
“Meski demikian, secara keseluruhan kinerja Bank Mandiri tetap solid, terlihat dari indikator permodalan, likuiditas, dan profitabilitas,” ujarnya.
Baca juga : Kredit Bank Mandiri Tumbuh 11 Persen di Semester I 2025
Menurutnya, langkah agresif tersebut belum tentu mencerminkan pemulihan permintaan kredit secara struktural, mengingat tidak semua bank menerapkan strategi serupa di tengah kondisi ekonomi saat ini. Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mencatatkan pertumbuhan kuat, mencapai Rp1.644,8 triliun atau naik 16,3% YoY, mencerminkan tingkat kepercayaan nasabah yang tetap terjaga.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyebut kinerja tersebut turut didorong oleh meningkatnya aktivitas transaksi nasabah, khususnya melalui kanal digital.
“Laba bersih Bank Mandiri tumbuh 16,7% secara tahunan menjadi Rp8,9 triliun hingga Februari 2026, seiring dengan meningkatnya aktivitas transaksi digital, terutama melalui Livin’ by Mandiri yang mendorong fee-based income,” ujarnya.
Baca juga : Bank Mandiri Catat Kinerja Positif Berkat Kredit dan Dana Murah
Sepanjang awal tahun ini, volume transaksi Livin’ by Mandiri mencapai lebih dari 738,7 juta transaksi atau tumbuh sekitar 28% YoY. Pertumbuhan ini didorong oleh semakin luasnya penggunaan layanan digital untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembayaran tagihan hingga transfer dana.
Aktivitas transaksi di merchant, termasuk UMKM, juga semakin meningkat dan memperkuat peran layanan digital Bank Mandiri dalam mendukung aktivitas ekonomi yang lebih inklusif.
Sejalan dengan itu, pendapatan berbasis komisi (fee-based income) dari kanal digital menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pendapatan dari Livin’ by Mandiri tercatat mencapai Rp625 miliar atau naik 45,3% YoY, sementara platform wholesale Kopra by Mandiri menyumbang Rp421 miliar dengan pertumbuhan 29,3% YoY.
Dari sisi intermediasi, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) mencapai Rp13,7 triliun atau tumbuh 9,16% YoY, didukung oleh penyaluran kredit yang tetap kuat. Efisiensi operasional juga terus membaik, tercermin dari rasio cost-to-income ratio (CIR) yang turun ke level 37,21%. Hal ini menunjukkan pengelolaan biaya yang semakin disiplin sekaligus peningkatan produktivitas bisnis.
Sementara itu, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sebesar 0,98% serta coverage ratio yang kuat di level 246,5%. Kondisi ini mencerminkan konsistensi Bank Mandiri dalam menerapkan prinsip kehati-hatian serta memperkuat manajemen risiko di tengah ekspansi kredit yang agresif. (E-3)





