JAKARTA, KOMPAS — Langkah Bursa Efek Indonesia mengumumkan status kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration diperkirakan memberi tekanan pada sejumlah saham yang masuk daftar tersebut. Langkah ini juga berpotensi melemahkan Indeks Harga Saham Gabungan meski hanya untuk jangka pendek.
Pengumuman status high shareholding concentration (HSC) atas struktur kepemilikan saham perusahaan terbuka atau emiten ini disampaikan BEI pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026).
Kebijakan ini menjadi salah satu upaya perbaikan transparansi dan proposal Otoritas Jasa Keuangan dan self regulatory organization (SRO) ke lembaga pemeringkat global, Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan data per 31 Maret 2026, terdapat sembilan emiten yang masuk daftar HSC dengan tingkat konsentrasi kepemilikan di atas 95 persen. Kesembilan emiten itu adalah PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) sebesar 99,85 persen, PT Ifishdeco Tbk (IFSH) 99,77 persen, PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) 98,35 persen.
Lalu, PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) 97,75 persen, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) 97,31 persen, PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) 95,94 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) 95,76 persen, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) 95,47 persen, dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) 95,35 persen.
Status ini menandakan bahwa saham suatu perusahaan tercatat terkonsentrasi pada kelompok pemegang saham tertentu dalam porsi yang sangat dominan, dibandingkan dengan kepemilikan saham oleh publik (free float).
Saat dihubungi, analis pasar modal Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, Minggu (5/4/2026), menilai bahwa saham BREN, DSSA, dan RLCO paling sensitif terhadap status pengumuman ini. Ketiganya memiliki sensitivitas tinggi terhadap persepsi likuiditas dan kepemilikan saham oleh publik meskipun karakter setiap saham berbeda.
Untuk BREN, Nafan memperkirakan sentimen HSC dapat memperberat tekanan teknikal yang sebelumnya sudah muncul di pasar. BREN merupakan emiten dengan bobot kapitalisasi pasar terbesar kedua dengan nilai Rp 642 triliun. Saham ini juga masuk ke dalam indeks MSCI.
Saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan sangat tinggi cenderung lebih rentan mengalami pergerakan harga yang tajam karena saham yang benar-benar tersedia di pasar menjadi terbatas.
Pada perdagangan Kamis, saham emiten energi terbarukan Grup Barito itu anjlok 12,73 persen ke level Rp 4.800. Untuk perdagangan pekan depan, saham BREN berpotensi melanjutkan penurunan ke area support atau batas rendah Rp 4.640 apabila tekanan jual belum mereda.
”Untuk BREN, sentimen penyehatan fundamental dan pembacaan pasar terhadap free float bisa membuat saham ini tetap tertekan dalam jangka pendek. Area support yang perlu dicermati ada di kisaran 4.640,” kata Nafan.
Sementara itu, saham DSSA yang memiliki kapitalisasi pasar Rp 542 triliun dinilai masih relatif aman. Pada perdagangan sepekan kemarin (30 Maret-2 April), saham pertambangan dan energi terbarukan yang terafiliasi Sinarmas Group ini mencatatkan penguatan 12,2 persen selama sepekan ke harga Rp 70.375 per saham.
Penguatan terjadi karena adanya rencana pemecahan nilai saham atau stock split. Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis pada Kamis, DSSA akan memecah saham dari nilai nominal Rp 25 menjadi Rp 1 per saham. Jumlah saham DSSA akan menjadi 192,63 miliar dari jumlah saham sebelum stock split, yaitu 7,70 miliar. Perdagangan saham bernilai nominal baru di pasar reguler dan negosiasi mulai 9 April 2026.
Nafan menilai, langkah stock split dapat menjadi katalis positif karena memperluas keterjangkauan harga saham bagi investor ritel dan meningkatkan frekuensi transaksi. Ia memperkirakan harga saham DSSA bisa naik dengan target Rp 72.800.
Meski demikian, status HSC tetap bisa menjadi faktor penahan laju kenaikan. Hal ini mengingat status DSSA dalam indeks MSCI bisa dipertimbangkan ulang oleh lembaga pemeringkat tersebut, jika proposal HSC diterima sebagai bahan evaluasi mereka.
”Status HSC tetap perlu dicermati walaupun DSSA masih dalam fase konsolidasi yang lebih sehat dibandingkan saham lain yang terkena sentimen serupa. Rencana stock split bisa membantu menciptakan likuiditas,” ujarnya.
Untuk RLCO, Nafan mengingatkan investor agar lebih berhati-hati. Dengan kapitalisasi pasar yang tidak sebesar emiten papan atas, saham seperti RLCO dinilai lebih rentan terhadap perubahan likuiditas dan pergeseran sentimen.
Saham yang baru melantai di bursa pada 8 Desember 2025 ini mendadak populer karena diramal bisa melambung dari harga perdana Rp 200 per saham ke harga Rp 80.000 oleh salah satu sekuritas. Per Kamis, saham perusahaan produk sarang burung walet itu berada di harga Rp 6.150.
Nafan melihat ada potensi penurunan hingga ke level Rp 5.000 pekan depan. ”Kalau RLCO, saya cenderung hati-hati. Market cap yang tidak besar bisa membuat isu likuiditas lebih cepat berpengaruh ke harga saham,” katanya.
Nafan mengatakan, saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan sangat tinggi cenderung lebih rentan mengalami pergerakan harga yang tajam karena saham yang benar-benar tersedia di pasar menjadi terbatas. Dalam kondisi seperti itu, perubahan sentimen dapat lebih cepat diterjemahkan menjadi lonjakan atau penurunan harga.
Investor direkomendasikan untuk menahan diri dan tidak terburu-buru mengambil posisi agresif pada saham-saham yang baru diumumkan berstatus HSC.
”Investor harus terus mengecek free float (kepemilikan saham publik) emiten. Itu penting karena free float akan sangat memengaruhi likuiditas dan pembentukan harga di pasar,” ujar Nafan.
Emiten yang ingin memperbaiki kualitas likuiditas perdagangannya dapat mempertimbangkan langkah korporasi untuk menambah porsi saham beredar di publik, misalnya melalui divestasi atau aksi korporasi tertentu yang meningkatkan jumlah saham yang efektif diperdagangkan pasar.
Dalam jangka pendek, Nafan merekomendasikan investor untuk menahan diri dan tidak terburu-buru mengambil posisi agresif pada saham-saham yang baru diumumkan berstatus HSC, terutama jika pergerakan harganya lebih didorong oleh sentimen ketimbang perbaikan fundamental.
Ia juga mengingatkan pasar agar mewaspadai potensi unusual movement maupun saham yang rentan masuk radar pengawasan bursa seperti full call auction (FCA) apabila volatilitas dan likuiditas menjadi tidak sehat.
Terhadap IHSG, Nafan menilai pengumuman HSC secara umum tidak akan mengubah arah pasar secara struktural. Namun, dalam jangka pendek, sentimen ini bisa tetap terasa, terutama bila mengenai saham-saham berkapitalisasi besar atau saham yang selama ini menjadi motor indeks.
Apalagi, IHSG saat ini masih bergerak dalam fase konsolidasi bearish atau pelemahan. Pada perdagangan terakhir, indeks ditutup di level 7.026, turun 2,20 persen. Menurut Nafan, IHSG masih berada dalam pola konsolidasi menurun sejalan dengan jumlah volume perdagangan yang menurun.
Untuk perdagangan jangka pendek, ia memetakan area support atau target bawah IHSG di kisaran 6.892 dan 7.005, sementara area resistance atau target atas berada di level 7.117 dan 7.222. Karena itu, ia menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham.
”Fokus pada saham-saham yang fundamentalnya solid, saham yang undervalued, dan saham yang mulai menunjukkan tanda-tanda reversal. Yang tidak kalah penting, investor harus menerapkan manajemen risiko secara disiplin,” kata Nafan.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menilai, pengumuman saham dengan HSC menjadi katalis negatif jangka pendek. Menurut dia, investor langsung mengaitkannya dengan isu likuiditas rendah, terutama terkait dengan kriteria MSCI, sehingga memicu aksi jual spekulatif dan tekanan harga seperti pada BREN dan DSSA.
”Meski tidak menunjukkan pelanggaran, publikasi ini menjadi sinyal awal bagi investor bahwa pergerakan saham berpotensi lebih volatil dan mudah digerakkan oleh segelintir pihak,” katanya.
Dampaknya ke IHSG cenderung menjadi pemberat psikologis pasar. Untuk perdagangan jangka pendek ke depan, pasar cenderung volatil, karena pasar belum benar-benar mengetahui apakah ada distribusi dari saham HSC, karena distribusi akan dilakukan secara bertahap, tidak sekaligus.
”Hindari potensi rebound (pembalikan pergerakan harga) di BREN dan DSSA karena cenderung false dengan ketidakpastian seperti ini," katanya.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam acara sosialisasi di Gedung BEI di Jakarta, Kamis, menjelaskan bahwa pengumuman HSC merupakan bentuk transparansi kepada publik dan mengadopsi praktik terbaik global yang diterapkan oleh Hong Kong Exchanges and Clearing (HKEX).
Menurut Jeffrey, publikasi status HSC dimaksudkan agar investor memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai struktur kepemilikan saham emiten, khususnya ketika penguasaan saham terpusat pada kelompok pemegang saham tertentu. Dengan demikian, investor diharapkan dapat mempertimbangkan keputusan investasinya secara lebih matang.
Namun, Jeffrey menegaskan bahwa status HSC tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran terhadap ketentuan pasar modal. Emiten yang masuk kategori HSC diberikan ruang untuk melakukan perbaikan.
Emiten dapat melakukan evaluasi internal maupun langkah strategis lain untuk meningkatkan tingkat investabilitas sahamnya. ”Perusahaan tercatat yang sudah melakukan hal-hal tersebut dapat melaporkan kepada SRO, dalam hal ini Bursa dan KSEI,” katanya.
Ia juga menekankan, pengumuman HSC bukanlah keterbukaan yang bersifat periodik seperti pelaporan kepemilikan saham tertentu. Status itu dapat tetap melekat sampai ada perubahan struktur kepemilikan atau langkah korporasi yang relevan.
HSC sendiri merupakan satu dari empat proposal perbaikan transparansi data untuk diajukan kepada lembaga penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE. Ini juga sekaligus sebagai bentuk reformasi transparansi pasar modal yang dicanangkan OJK dan SRO pasar modal sejak awal Februari silam.
Proposal lain yang sudah diberikan yaitu penyediaan data kepemilikan saham perusahaan tercatat di atas 1 persen kepada publik; penguatan granularity klasifikasi investor dalam data kepemilikan saham KSEI menjadi total 39 klasifikasi dan tipe investor; serta kenaikan batas minimum free float menjadi 15 persen melalui penyesuaian Peraturan BEI Nomor I-A.





