Pendukung Presiden Presiden Iran Masoud Pezeshkian melontarkan sindiran tajam kepada Presiden AS Donald Trump di tengah perang antara Iran vs AS–Israel yang terus berlangsung.
Mereka menyebut nasib Trump tak akan berbeda dengan pendahulunya, Jimmy Carter, yakni sama-sama dipermalukan.
“Carter dipermalukan, demikian juga Trump,” ujar fan page pendukung Pezeshkian di X, Senin (6/4).
Cuitan ini membawa pembacanya pada peristiwa sejarah 1979–1981, yaitu ketegangan Iran vs AS.
Pada 4 November 1979, mahasiswa Iran menyerbu Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran dan menyandera 52 warga AS selama 444 hari.
Krisis ini terjadi tak lama setelah Revolusi Islam Iran yang dipimpin Ruhollah Khomeini menggulingkan Shah Iran Muhammad Reza Pahlavi yang pro-AS.
Kemarahan mahasiswa dipicu kekhawatiran AS akan kembali mencampuri urusan dalam negeri Iran dan mengembalikan Pahlavi ke kekuasaan.
Adapun kekuasaan Pahlavi sebelumnya diperkuat melalui kudeta 1953 terhadap PM Muhammad Mossadegh — kudeta yang didukung AS dan Inggris.
Upaya Presiden Jimmy Carter untuk membebaskan sandera melalui diplomasi dan operasi militer gagal, termasuk misi penyelamatan yang berujung pada tewasnya delapan tentara AS.
Peristiwa ini membuat Carter terlihat lemah di mata publik Amerika. Citra politikus Demokrat ini terjun bebas.
Krisis sandera yang berkepanjangan itu menjadi salah satu faktor utama kekalahan Carter dalam pemilu presiden 1980 dari Ronald Reagan. Para sandera baru dibebaskan beberapa menit setelah Reagan dilantik pada 20 Januari 1981.
Krisis penyanderaan Iran menjadi salah satu peristiwa yang paling sering diangkat dalam film, baik dokumenter maupun drama, termasuk Argo yang mendapat Piala Oscar.
Hingga kini, Iran kerap mengingat peristiwa 1979-1981 sebagai simbol kegagalan AS dan kemenangan Iran.
Mewarisi Situasi CarterArtikel di majalah Time pekan lalu juga menyoroti hal ini. "Trump, yang dulu mengejek warisan Carter, kini berisiko mengalaminya kembali," tulis Philip Elliott, koresponden senior.
Artikel itu menyoroti bahwa Trump kini menghadapi situasi yang dinilai mirip dengan Carter, terutama dalam konteks konflik dengan Iran yang berpotensi berdampak besar pada politik domestik Amerika Serikat.
Jika Carter pada akhir 1970-an terjerat krisis sandera Iran, lonjakan harga energi, dan tekanan ekonomi yang melemahkan posisinya hingga kalah dalam pemilu, Trump saat ini dinilai berada di jalur serupa dengan keterlibatannya dalam perang melawan Iran yang memicu kenaikan harga minyak dan tekanan ekonomi di dalam negeri.
Elliot menyoroti ironi bahwa Trump sebelumnya kerap mengejek warisan Carter, namun kini justru menghadapi kondisi yang memiliki kemiripan, sehingga memunculkan risiko bahwa ia dapat mengalami nasib politik yang sama apabila konflik dan dampak ekonominya tidak terkendali.
Terkait krisis Iran ini, komentar lama Trump saat muda juga kembali mengemuka. Trump pernah menyebut krisis sandera Iran sebagai sesuatu yang 'konyol' dan 'horor'. Ia mengkritik Carter karena “membiarkan Iran menahan sandera.”
Jimmy Carter meninggal pada 29 Desember 2024 pada usia 100 tahun.
Koalisi AS-Iran menyerang Iran per 28 Februari 2026. Saat ini perang memasuki minggu ke-6, melebihi target Trump yang berkisar 4-5 minggu yang dia sampaikan di awal perang.
Adapun Trump dalam cuitan terbarunya akan menyerang infrastruktur Iran pada Selasa besok.






