Awal Pekan, Harga Minyak Mentah Naik Lagi Jadi 111 USD per Barel

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak mentah dibuka menguat pada Senin (6/4) setelah libur Paskah, karena perang AS-Israel dengan Iran terus mengganggu pasokan minyak global.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik 2,2 persen menjadi USD 111,43 per barel pada pukul 2215 GMT. Harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka naik 2,7 persen menjadi USD 114,57 per barel.

Pada Kamis (2/4), hari perdagangan terakhir sebelum libur Jumat Agung, WTI ditutup naik lebih dari 11 persen dan Brent melonjak hampir 8 persen, mencatat kenaikan harga absolut terbesar sejak 2020. Kenaikan dikarenakan Presiden AS Donald Trump berjanji untuk melanjutkan serangan terhadap Iran.

Selat Hormuz, yang menjadi jalur minyak dan produk petroleum dari Irak, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, sebagian besar masih tertutup akibat serangan Iran terhadap kapal-kapal setelah perang dimulai pada 28 Februari.

Karena gangguan pasokan dari Timur Tengah, kilang-kilang minyak mencari sumber alternatif untuk minyak mentah, khususnya untuk kargo fisik di AS dan Laut Utara Inggris.

"Para pembeli global menawar secara agresif untuk barel minyak (Pantai Teluk AS) dan harga Brent bahkan naik lebih cepat," kata Schork Group dalam catatannya.

Pada Minggu (5/4), Trump meningkatkan tekanan pada Teheran, mengancam dalam unggahan media sosial yang penuh dengan kata-kata kasar untuk menargetkan pembangkit listrik dan jembatan Iran pada Selasa mendatang, jika Selat Hormuz yang strategis tidak dibuka kembali.

Meski demikian, data perkapalan menunjukkan beberapa kapal termasuk kapal tanker yang dioperasikan oleh Oman, kapal kontainer milik Prancis, dan kapal pengangkut gas milik Jepang, telah melintasi Selat Hormuz sejak Kamis, yang mencerminkan kebijakan Iran untuk mengizinkan kapal dari negara-negara yang dianggap bersahabat untuk melintas.

Perang tersebut terancam berlanjut karena Iran secara resmi telah memberi tahu para mediator bahwa mereka tidak siap untuk bertemu dengan pejabat AS di ibu kota Pakistan, Islamabad, dalam beberapa hari mendatang, dan upaya untuk mencapai gencatan senjata telah menemui jalan buntu.

Pada Minggu, OPEC+, yang terdiri dari beberapa anggota pengekspor minyak dan sekutu seperti Rusia, menyetujui peningkatan pasokan yang moderat sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei 2026. Namun, keputusan itu sebagian besar hanya akan ada di atas kertas karena beberapa produsen utama tidak dapat meningkatkan produksi karena perang.

Pasokan Rusia baru-baru ini terganggu oleh serangan pesawat tak berawak Ukraina terhadap terminal ekspornya di Laut Baltik. Laporan media pada Minggu mengatakan terminal Ust-Luga melanjutkan pemuatan pada Sabtu setelah beberapa hari mengalami gangguan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Persaingan Zona Degradasi Memanas! Semen Padang Gagal Curi Poin, Coach Imran: Pentingnya Cetak Gol
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Ekonomi RI Diprediksi Tetap Tumbuh 5 Persen Meski Hadapi Gejolak Minyak Global
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Bersinar saat PSBS Biak Terpuruk, Kadu Berharap Tetap Berkarier di Indonesia pada Musim Depan
• 56 menit lalubola.com
thumb
Melihat Cerita Pemulung dan Pengepul Mewujudkan Harapan dari Galon Bekas
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Elnusa Siap Menjadi Low-Cost Operator, Targetkan Efisiensi hingga 25 Persen
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.