KOMPAS.com - Suasana di lokasi bencana Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (4/4/2026), menjelma menjadi sambung rasa para penyintas bencana banjir dan longsor.
Sore itu, sekitar 200 penyintas bencana berkumpul beralas tikar mendengarkan keterangan dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian beserta rombongan yang baru tiba di lokasi.
Sembari menyimak pemaparan transisi pascabencana, sesekali beberapa penyintas bencana beradu cepat menyampaikan keluh kesah menjalani hidup getir pascabencana tanpa air bersih dan tempat tinggal layak karena diterjang banjir pada akhir November 2025.
"Pak ini pak, tolong kalau bisa secepatnya dibuatkan sumur bor. Air bersih sudah sulit sekali di sini. Rumah kami juga semua sudah banyak yang hilang," ujar Mijah, salah seorang penyintas, dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Minggu (5/4/2026).
Baca juga: Sumur Bor Terus Bertambah, Air Bersih Mengalir di Wilayah Terdampak Bencana Sumatera
Penyintas bencana lainnya, Deri, mengungkapkan harapannya kepada Tito agar penyintas bencana di Desa Sekumur diberikan fasilitas sanitasi. Selain itu, ibu dua anak itu juga menghendaki agar pemerintah segera memulihkan ekonomi warga yang lumpuh.
"Harapan kami agar akses jalan kami yang sulit juga diperbaiki. Segala program pemulihan kampung kami mohon segera dipercepat. Itu harapan kami," kata Deri.
Semula, Deri dan Mijah tidak terlalu berharap taraf kehidupannya akan dipulihkan pemerintah, mengingat lokasi Desa Sekumur yang jauh dan sulit dijangkau.
Menurutnya, mustahil perwakilan pemerintah bersedia datang melihat langsung kondisi yang dialami penyintas bencana di Desa Sekumur.
Baca juga: Desa Sekumur Aceh yang Terisolasi: Di Antara Lumpur, Sampan, dan Bantuan Warga yang Bertahan
Namun, keraguan tersebut berubah menjadi asa ketika rombongan Satuan Tugas (Satgas) PRR Pascabencana Sumatera yang dipimpin Tito tiba di lokasi menemui para penyintas bencana yang tinggal berdampingan dengan sisa bangunan yang hancur dan porak poranda.
"Kami tidak menyangka akan didatangi karena untuk sampai ke sini aksesnya sulit dan jauh. Tapi, ternyata Bapak Mendagri benar sampai ke sini (Desa Sekumur). Ya, alhamdulilah kondisi kami bisa dilihat dari dekat," kata Mijah.
Deri dan Mijah pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk menyampaikan langsung segala keluh kesah persoalan yang selama ini dirasakan penyintas bencana.
Bagi keduanya, hal paling berkesan adalah saat aspirasi mereka yang meminta untuk segera dibangunkan hunian tetap (huntap) komunal mendapat respons positif dari Tito.
Baca juga: Pemerintah Percepat Pembangunan Huntap bagi Masyarakat Terdampak Bencana di Sumatera
"Saya langsung sampaikan saja ke Bapak Mendagri apa yang kami rasakan dan butuhkan soal air bersih dan huntap. Saya merasa plong sudah menyampaikannya. Biarpun belum tahu kapan (dieksekusi), tapi paling tidak sudah menyampaikan," ucap Mijah.
Sementara itu, Tito menyampaikan bahwa pihaknya mengunjungi Desa Sekumur karena ingin memastikan penyintas bencana di lokasi yang berjarak puluhan kilometer (km) dari pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Tamiang itu tidak terlalu lama menjalani hidup getir pascabencana.
Pada kesempatan tersebut, ia menyerap langsung aspirasi penyintas bencana yang meminta segera dibuatkan fasilitas air bersih berupa sumur bor serta huntap.
Tito mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat ingin dibuatkan huntap komunal karena mayoritas penyintas tinggal di daerah rawan banjir dari luapan sungai.
Baca juga: Pembangunan Huntap Korban Banjir Sumatera: Dapat Dana Rp 60 Juta atau Dibangunkan Pemerintah
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




