Penulis: Fityan
TVRINews, Wina
Langkah Simbolis Diambil Saat Jalur Distribusi Global Terhenti Akibat Perang
Aliansi produsen minyak global, OPEC+, menyepakati kenaikan kuota produksi minyak mentah sebesar 206.000 barel per hari untuk bulan Mei mendatang.
Keputusan ini diambil dalam pertemuan virtual pada hari Minggu, di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang melumpuhkan jalur pasokan utama dunia.
Delapan negara anggota utama, termasuk Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Kazakhstan, Algeria, dan Oman,menyatakan komitmen mereka untuk menjaga stabilitas pasar.
Namun, para analis menilai langkah ini lebih bersifat simbolis. Hal tersebut dikarenakan hambatan logistik yang masif akibat penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari lalu, yang menghalangi ekspor fisik dari negara-negara produsen besar di kawasan Teluk.
Ancaman Stabilitas Energi Dunia
Dalam pernyataan resminya, kelompok tersebut menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap kondisi pasar yang fluktuatif.
"Negara-negara anggota akan terus memantau dan menilai kondisi pasar secara saksama dalam upaya berkelanjutan guna mendukung stabilitas pasar," tulis pernyataan resmi OPEC+ di kutip Al Jazeera Senin 6 April 2026.
Selain itu, mereka menyatakan kekhawatiran mendalam atas serangan terhadap infrastruktur energi global.
OPEC+ mencatat bahwa pemulihan aset energi yang rusak memerlukan biaya besar dan waktu yang lama, yang secara langsung menekan ketersediaan pasokan global.
Kenaikan kuota ini hanya mewakili kurang dari dua persen dari total pasokan yang terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.
Meski demikian, sumber internal kepada Reuters menyebutkan bahwa kesepakatan ini adalah sinyal kesiapan produsen untuk menggenjot output segera setelah jalur perairan tersebut dibuka kembali.
Tekanan Harga dan Eskalasi Politik
Dampak dari ketegangan geopolitik ini telah mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir, mendekati angka $120 per barel. Tekanan ini mulai merambat pada kenaikan harga bahan bakar transportasi di tingkat global.
Lembaga keuangan JPMorgan memperingatkan risiko yang lebih besar. Jika gangguan arus minyak di Selat Hormuz berlanjut hingga pertengahan Mei, harga minyak diprediksi bisa melambung melampaui $150 per barel, yang akan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Di sisi lain, dinamika politik terus memanas:
- Diplomasi Regional: Kementerian Luar Negeri Oman mengonfirmasi adanya pembicaraan tingkat tinggi dengan Iran untuk memastikan kelancaran transit kapal di Selat Hormuz.
- Pengecualian Irak: Iran dilaporkan mulai melonggarkan batasan bagi negara tetangga, di mana data pengiriman menunjukkan kapal tanker pengangkut minyak mentah Irak telah diizinkan melewati selat tersebut.
- Ultimatum AS : Presiden AS Donald Trump memberikan ancaman eskalasi lebih lanjut, dengan target infrastruktur sipil Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali pada hari Senin.
Saat ini, gangguan pasokan minyak dunia diperkirakan mencapai 12 hingga 15 juta barel per hari, atau sekitar 15% dari total pasokan global. Pasar kini menanti apakah langkah diplomasi mampu meredam ketegangan sebelum ancaman militer lebih lanjut dieksekusi.
Editor: Redaksi TVRINews





