Neraca Perdagangan Luar Negeri Jatim Defisit Awal 2026, Nilai Impor Sentuh US$5,19 Miliar

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SURABAYA — Neraca perdagangan Jawa Timur pada awal 2026 tercatat defisit seiring penurunan ekspor dan kenaikan impor.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengatakan nilai ekspor Jawa Timur pada periode Januari–Februari 2026 tercatat sebesar US$4,02 miliar, turun 0,54% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Sejalan dengan itu, ekspor nonmigas yang mencapai US$3,97 miliar juga mengalami penurunan tipis sebesar 0,04%,” ungkap Herum, dikutip Senin (6/4/2026).

Secara bulanan, nilai ekspor Jawa Timur pada Februari 2026 tercatat sebesar US$1,97 miliar, turun 5,48% dibandingkan dengan Februari 2025.

Sementara itu, ekspor nonmigas pada Februari 2026 tercatat sebesar US$1,92 miliar, atau turun 5,10% secara tahunan.

Dari sisi komoditas, kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) menjadi penyumbang kenaikan ekspor nonmigas terbesar, yakni naik US$107,85 juta atau 32,34% dibandingkan dengan tahun lalu.

Baca Juga

  • Nilai Transaksi Ekonomi Kelompok Tani Hutan Jatim Capai Rp367,95 Miliar pada Triwulan I/2026
  • Konsumsi BBM Naik 19% dan Avtur 13% di Jatim pada Periode Lebaran
  • Bos Bulog Dapati Harga Daging Sapi di Surabaya Melonjak hingga Rp140.000 per Kg

Sebaliknya, komoditas tembaga (HS 74) mencatat penurunan terbesar, yakni sebesar US$57,48 juta atau turun 16,10%.

Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas dari industri pengolahan masih tumbuh positif dengan nilai US$3,81 miliar atau naik 1,80% secara tahunan.

Namun, ekspor sektor pertanian turun 31,46%, sedangkan sektor pertambangan dan lainnya turun 0,77%.

Di sisi lain, impor Jawa Timur pada Januari–Februari 2026 tercatat sebesar US$5,19 miliar, atau naik 13,02% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Kenaikan ini terutama didorong oleh impor nonmigas yang mencapai US$4,56 miliar atau naik 23,97%,” jelas Herum.

Sementara itu, impor migas tercatat sebesar US$0,63 miliar, turun 31,01% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Dari sisi komoditas, kenaikan impor terbesar terjadi pada kelompok perhiasan atau permata, yang meningkat sebesar US$514,87 juta atau 467,66%.

Sebaliknya, impor besi dan baja mencatat penurunan terbesar, yakni US$91,89 juta atau turun 28,93%.

Berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong masih mendominasi dengan nilai US$4,20 miliar, naik 12,40%.

Sementara itu, impor barang konsumsi tercatat sebesar US$0,52 miliar atau naik 7,56%, sedangkan impor barang modal mencapai US$0,47 miliar atau tumbuh 26,26%.

Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Jawa Timur pada Januari–Februari 2026 mengalami defisit sebesar US$1,17 miliar.

Secara rinci, defisit tersebut berasal dari sektor migas sebesar US$576,72 juta dan sektor nonmigas sebesar US$594,80 juta.

“Defisit ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih cukup kuat, terutama dari sisi peningkatan kebutuhan impor di tengah perlambatan ekspor,” tutup Herum.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ajaib, Pasien Mati Otak Kembali Sadar dan Sembuh Gara-Gara Lubang di Jalan
• 14 jam laluokezone.com
thumb
Konser Intimate Saumata Strings di Ruma’ta Art Space Suguhkan Harmoni Lintas Zaman
• 11 jam laluharianfajar
thumb
Fraksi Demokrat soal RUU Perampasan Aset: Setiap Warga Harus Deklarasi Kekayaan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Kholidin Termotivasi Usai Kalahkan Juara Paralimpiade, Sabet Emas di Bangkok 2026
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Panduan Lengkap Salat Berjemaah: Dalil serta Syarat Imam dan Makmum
• 23 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.