Studi Ungkap Dampak Ghosting Lebih Menyakitkan daripada Ditolak Langsung

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Siapa pun yang pernah di-ghosting, kemungkinan besar memahami betapa menyakitkannya pengalaman tersebut. Bahkan, menurut studi, itu lebih menyakitkan daripada ditolak langsung oleh gebetan.

Sebuah studi terbaru yang terbit di jurnal Computers in Human Behavior menyebut, diabaikan tanpa penjelasan ternyata dapat menimbulkan dampak psikologis yang lebih lama dibandingkan penolakan secara langsung.

Penelitian ini menemukan, meski kedua bentuk penolakan sama-sama melukai emosi, kebutuhan psikologis, dan persepsi sosial seseorang, ghosting jauh lebih ambigu dan tidak memberikan kejelasan. Akibatnya, proses pemulihan pun menjadi lebih lama.

Perkembangan media sosial dan aplikasi kencan telah mengubah cara manusia berinteraksi. Di satu sisi, teknologi memudahkan orang untuk terhubung lintas jarak dan menemukan individu dengan minat serupa. Namun, di sisi lain, muncul pula dampak negatif, salah satunya ghosting.

Ghosting adalah praktik mengakhiri hubungan baik romantis, profesional, maupun pertemanan tanpa penjelasan, dengan cara mengabaikan semua komunikasi. Perilaku ini juga bisa dianggap sebagai bentuk pengucilan sosial karena seseorang dihilangkan begitu saja dari kehidupan orang lain.

Fenomena ini semakin umum terjadi terutama di aplikasi kencan dan media sosial, membuat korban harus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Bagi sebagian orang, pengalaman ini sangat menyakitkan, meski ada juga yang berpendapat bahwa ghosting lebih “enjoy” dibanding penolakan langsung.

Sejak 2017, berbagai studi telah meneliti ghosting, namun sebagian besar berbasis ingatan masa lalu responden. Metode ini dinilai kurang akurat karena memori manusia bersifat subjektif dan rentan bias.

Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti dari University of Milano-Bicocca di Italia melakukan eksperimen real-time guna melihat reaksi langsung terhadap ghosting dan penolakan.

Penelitian ini terdiri dari dua eksperimen dengan metode daily diary (catatan harian). Pada eksperimen pertama, 46 peserta berusia 19 hingga 34 tahun diminta melakukan percakapan teks selama 15 menit setiap hari melalui aplikasi Telegram. Mereka dipasangkan dengan “partisipan ghoib” yang sebenarnya adalah asisten peneliti.

Selama tiga hari, percakapan berlangsung normal. Namun pada hari keempat, peserta dibagi menjadi tiga kelompok, yakni kelompok kontrol tetap melanjutkan percakapan seperti biasa, kelompok kedua menerima penolakan langsung, dan kelompok ketiga mengalami ghosting tanpa penjelasan

Hasilnya menunjukkan penolakan maupun ghosting sama-sama memicu emosi negatif dan menurunkan rasa percaya diri serta kedekatan interpersonal. Namun, peserta yang ditolak secara langsung cenderung pulih lebih cepat.

Sebaliknya, mereka yang di-ghosting mengalami ketidakpastian yang berkepanjangan, sehingga proses pemulihannya lebih lambat. Peneliti menyimpulkan bahwa penolakan langsung memberikan kejelasan, sementara ghosting meninggalkan tanda tanya.

Eksperimen kedua melibatkan 90 peserta selama sembilan hari, sekaligus menguji apakah faktor gender berpengaruh terhadap respons. Hasilnya konsisten, tidak ada perbedaan signifikan berdasarkan gender. Mereka yang ditolak langsung mengalami lonjakan emosi negatif yang cepat namun juga cepat mereda. Sebaliknya, ghosting memicu respons yang lebih lambat tetapi berlangsung lebih lama.

“Respons terhadap penolakan muncul segera setelah kejadian dan kemudian mereda. Sementara ghosting memicu respons yang lebih lambat dan berkepanjangan,” tulis tim peneliti, sebagaimana dikutip IFL Science.

Kendati demikian, peneliti mengakui studi ini dilakukan dalam kondisi terkontrol, sehingga hubungan antar-peserta tidak sekompleks hubungan nyata.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin memiliki petunjuk konteks yang membantu memahami situasi. Oleh karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk melihat dampak ghosting dalam hubungan jangka panjang yang lebih realistis.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Antisipasi Harga Avtur Global, Pemerintah Kucurkan Subsidi Rp2,6 Triliun
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Rapat Paripurna DPRD Takalar Mendadak Diskors, Dokumen Eksekutif Terlambat, Fraksi Mengaku Kecewa
• 9 jam laluharianfajar
thumb
Siap-Siap! Harga Air Minum Kemasan Naik Imbas Krisis Bahan Baku Plastik
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Siap Tampil All Out di China, Rajiah Sallsabillah Bidik Kesempatan Terakhir Tampil di Asian Games 2026
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Lee Chae Yeon akan comeback di bawah agensi DOD
• 10 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.