Penumpukan sampah di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, dikeluhkan warga. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan penanganan sampah tuntas dalam waktu sekitar 7-8 hari ke depan.
Pramono menyebut penumpukan sampah ini merupakan imbas dari gangguan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, khususnya di zona 4A yang terdampak sehingga aktivitas pengangkutan ikut tertahan.
"Nanti detailnya akan dijelaskan Pak Dirut Pasar Jaya. Mudah-mudahan tujuh, delapan hari lagi selesai. Sekarang ini sedang ditangani," ujar Pramono di Pasar Gardu Asem, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2026).
Menurut Pramono, efek dari gangguan di zona 4A membuat distribusi sampah ke Kramat Jati ikut terhambat dan memicu penumpukan lebih besar dari biasanya. Ia menegaskan Pemprov DKI sudah menerjunkan tim untuk mempercepat pengangkutan.
"Memang akibat dampak dari zona 4A Bantar Gebang yang kemudian rentetannya terjadi sampai hari ini. Saya sudah meminta Dirut Pasar Jaya untuk segera yang di Kramat Jati diselesaikan," ucapnya.
Seperti diketahui, gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, membuat tembok pembatas yang memisahkan gunungan sampah dengan kali dan permukiman warga jebol. Sampah lalu meluber ke sekitarnya.
Pantauan detikcom di lokasi, Selasa (31/3), tembok pembatas itu berada persis di sisi kali. Ada dua titik tembok yang sampai hari ini jebol. Satu titik jebol selebar sekitar 10 meter, satu titik lainnya sekitar 2 meter.
Warga setempat, Tuswadi, mengatakan satu tembok yang jebol itu baru terjadi sekitar awal atau pertengahan Maret ini. Sedangkan yang jebol besar sudah sekitar dua bulan.
"Kalau yang ini (2 meter) setengah bulan lalu. Jebolnya malam-malam gitu," kata Tuswadi saat ditemui di lokasi.
Rumah Tuswadi berada dekat tembok pembatas itu. Tuswadi mengaku terganggu oleh bau menyengat dari sampah itu.
"Baunya banget. Apalagi kalau ketiup angin, waduh, tambah bau lagi. Lebih parah gara-gara jebol ini," jelasnya.
(bel/whn)





