Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi perekonomian Indonesia tetap stabil di tengah tekanan global yang datang bertubi-tubi sejak awal tahun, mulai dari gejolak pasar keuangan, penilaian lembaga pemeringkat, hingga eskalasi konflik di Timur Tengah.
Bendahara negara itu mengatakan, meski menghadapi berbagai tekanan tersebut, stabilitas ekonomi Indonesia masih terjaga dibandingkan sejumlah negara lain yang mulai mengalami perlambatan signifikan.
“Di tengah ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik dan tekanan aktivitas ekonomi dunia, stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga. Jadi tekanan yang kita alami bertubi-tubi di awal tahun ada MSCI, ada lagi lembaga pemeringkat, terus ketika sudah agak tenang ada perang di timur tengah,” kaya Purbaya dalam Rapat Komisi XI DPR RI, Senin (6/4).
Dia menegaskan, kondisi ini menjadi tantangan serius yang perlu dikelola dengan hati-hati agar tidak berdampak lebih dalam pada perekonomian domestik.
“Ini merupakan tantangan yang amat signifikan bagi APBN dan perekonomian kita. Jadi kalau kita tidak memanage itu dengan baik, kita mungkin nasibnya akan sama dengan negara sekeliling kita yang sudah mengalami mungkin perlambatan ekonomi yang signifikan karena mereka terpaksa menaikkan BBM atau supply BBM yang tidak ada di pasar. Kita masih relatif stabil, stabilitas tersebut tersebut pada berbagai indikator utama,” jelasnya.
Manufaktur Masih Ekspansif
Stabilitas tersebut tercermin dari sejumlah indikator utama yang masih menunjukkan kinerja positif. Aktivitas sektor manufaktur, misalnya, masih berada di zona ekspansi selama delapan bulan berturut-turut, meski sempat melambat pada Maret.
“Hal ini terefleksi antara lain dari aktivitas sektor yang positif. Industri manufaktur terus ekspansif dalam 8 bulan berturut-turut. Ini PMI di bulan Maret memang agak turun sedikit ke 51,1 karena mereka takut akan dampak dari perang terhadap ekonomi negara kita,” kata Purbaya.
Meski demikian, pemerintah menilai penurunan tersebut bersifat sementara dan berpotensi kembali menguat seiring meredanya kekhawatiran pelaku usaha.
“Tapi di bulan Februari naik ke 53 yang level yang tinggi. Saya pikir ini hanya sebentar saja begitu kita bisa yakinkan bahwa ekonomi tidak pengaruh secara signifikan. PMI juga akan rebound dengan signifikan lagi,” tegasnya.
Inflasi Terkendali
Dari sisi harga, inflasi juga dinilai tetap terkendali dalam rentang target, meskipun angka tahunan terlihat lebih tinggi akibat faktor basis perhitungan.
“Inflasi pada bulan Maret mencapai 3,48 persen year on year. Ini ada dampak diskon listrik tahun lalu yang tidak dihitung oleh atau tidak dikeluarkan oleh BPS karena memang angka inflation seperti itu. Tapi kalau kita keluarkan pengalaman dari kenaikan atau subsidi listrik tahun lalu, inflasi di bulan Maret hanya 2,51 persen jadi masih relatif terkendali,” kata dia.
Ia menekankan, kondisi inflasi yang terjaga memberikan ruang bagi perekonomian untuk tumbuh tanpa tekanan harga berlebih.
Cadangan Devisa dan Likuiditas Kuat
Kinerja sektor eksternal juga tetap solid dengan surplus perdagangan yang berkelanjutan serta cadangan devisa yang jauh di atas batas aman global.
“Posisi cadangan devisa setara 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah jauh di atas rule of thumb level aman global yaitu di sekitar 3 bulan,” ungkap Purbaya.
Di sisi likuiditas, pemerintah juga melakukan berbagai langkah untuk menjaga momentum pertumbuhan, termasuk melalui penempatan dana di perbankan.
“Pemerintah melakukan terobosan kebijakan dengan memperkuat kolaborasi kebijakan fiskal dan moneter untuk mendorong agar aktivitas ekonomi berputar lebih cepat dan tumbuh lebih tinggi. Ini antara lainnya melalui penempatan sal sebesar Rp 12 triliun di perbankan untuk meningkatkan likuiditas yang signifikan dalam sistem keuangan,” tuturnya.
Kebijakan tersebut mendorong pertumbuhan uang beredar dan membuka ruang bagi peningkatan penyaluran kredit ke sektor riil.
“Dengan penempatan kas pemerintah, base money M0 sampai dengan Maret minggu ketiga 2026 tumbuh sebesar 19,2 persen year on year,” kata Purbaya.
Pemerintah optimistis, dengan likuiditas yang terjaga dan konsumsi masyarakat yang mulai pulih, pertumbuhan ekonomi ke depan akan tetap kuat meskipun risiko global masih membayangi.




