SERANGAN Israel kembali menghantam Libanon dan menewaskan sedikitnya 15 orang pada Minggu (5/4) waktu setempat. Gempuran itu juga memaksa penutupan jalur perbatasan utama dengan Suriah.
Eskalasi terjadi sehari setelah Israel mengancam akan menyerang titik lintas Masnaa selaku pintu vital antara kedua negara. Sejak 2 Maret, Israel terus melancarkan serangan udara dan operasi darat di Libanon selatan setelah Hizbullah terlibat dalam konflik kawasan mendukung Iran.
Kepala militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir bahkan menegaskan serangan terhadap Hizbullah akan ditingkatkan. Adapun Kementerian Kesehatan Libanon melaporkan satu serangan di kawasan Jnah, Beirut, menewaskan lima orang dan melukai 52 lainnya.
Baca juga : Dua Tahun Kosong, Kursi Kepresidenan Libanon Akhirnya Dihuni Joseph Aoun
Serangan lain di Ain Saadeh menewaskan tiga orang, sementara di Kfar Hatta, tujuh orang, termasuk seorang anak berusia empat tahun, turut menjadi korban.
Di tengah serangan tersebut, Hizbullah mengklaim meluncurkan rudal jelajah ke kapal perang Israel di lepas pantai. Namun, militer Israel menyatakan tidak mengetahui adanya insiden tersebut.
Sejak konflik meluas, otoritas Libanon mencatat lebih dari 1.400 orang tewas, termasuk 126 anak-anak, dan lebih dari satu juta warga mengungsi.
Baca juga : Israel Serang Pos Hizbullah di Libanon
Salah satu serangan di Beirut bahkan terjadi hanya sekitar 100 meter dari Rumah Sakit Universitas Rafik Hariri, fasilitas medis publik terbesar di negara itu. Wakil direktur rumah sakit, Zakaria Tawbeh, mengatakan pihaknya menerima banyak korban.
“Kami menerima empat korban tewas, tiga warga Sudan dan satu remaja perempuan berusia 15 tahun serta 31 korban luka,” ujarnya.
“Banyak kaca pecah, dan beberapa pasien mengalami serangan panik," imbuhnya.
Selain di Beirut, Israel juga menggempur wilayah pinggiran selatan ibu kota yang dikenal sebagai basis Hizbullah meski sebagian besar warga telah mengungsi.
Di tengah situasi yang memburuk, Presiden Libanon Joseph Aoun kembali menyerukan dialog dengan Israel untuk mencegah kehancuran lebih luas.
“Mengapa kita tidak bernegosiasi, setidaknya untuk menyelamatkan rumah-rumah yang belum hancur?” ujarnya. (AFP/I-1)





