Nilai tukar rupiah kembali hampir menyentuh Rp17.000 per dolar AS. Dalam transaksi di Jakarta, Senin (6/4/2026) pagi, rupiah terpantau melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp16.996 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per dolar AS.
Lukman Leong analis mata uang Doo Financial Futures menilai pelemahan kurs rupiah dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang di Timur Tengah (Timteng).
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi perang di Timteng dan harga minyak mentah yang masih terus naik,” ucapnya dikutip dari Antara, Senin (6/4/2026).
Donald Trump Presiden AS sebelumnya memperingatkan kemungkinan serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran akan terjadi pada, Selasa (7/4/2026) besok.
Trump juga mengancam Iran agar membuka Selat Hormuz atau mereka akan hidup menderita. “Trump mengancam Iran akan menjadi neraka besok Selasa apabila Hormuz tidak dibuka,” kata Lukman.
Sementara untuk harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sendiri, sempat naik 115 dolar AS per barel pagi ini, dan sedikit terkoreksi ke angka 112 dolar AS per barel.
“Indeks dolar AS sendiri naik didukung oleh data pekerjaan AS NFP (Non-Farm Payroll) yang lebih kuat dari perkiraan,” ungkapnya.
Jumlah pekerjaan di sektor NFP meningkat 178 ribu secara musiman selama bulan Maret 2026, melampaui perkiraan ekonom sebesar 59 ribu.
Tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,3 persen dibandingkan 4,4 persen pada Februari 2026 dengan ekspektasi 4,4 persen.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan berkisar Rp16.950-Rp17.050 per dolar AS.(ant/mar/bil)




