Rare Earth Indonesia Diburu Dunia, Maroef Sjamsoeddin: Jangan Sampai Diganggu Aktivitas Tambang Ilegal

tvonenews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Kekayaan Indonesia terutama sumber daya alam berupa rare earth atau tanah jarang sedang diperebutkan dunia. Meski demikian, pasokan domestik terancam bayang-bayang tambang ilegal dan penyelundupan.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengungkapkan adanya indikasi hasil tambang Indonesia yang keluar secara ilegal dan kemudian diolah di negara lain menjadi produk berteknologi tinggi. Salah satu yang ia soroti adalah logam tanah jarang (LTJ). 

"Tanah jarang ini yang jadi perebutan sekarang di dunia internasional. Khususnya yang paling sering dipakai untuk industri pertahanan. Kita enggak tahu mungkin ada hasil tambang Indonesia yang berserakan di perang Iran-Israel. Mungkin saja kita enggak tahu," beber Maroef, di Jakarta, dikutip pada Senin (6/4/2026). 

Ia tak menampik bahwa sebelum adanya Satgas Penetiban Kawasan Hutan (PKH), hasil tambang Indonesia dimanfaatkan oleh negara lain tanpa disadari, seperti yang diduga terjadi di Bangka Belitung. Namun, kini pengawasan dan penindakannya lebih ketat.  

Salah satunya yang terjadi di Singapura, sebagai negara yang juga menikmati hasil tambang Indonesia. 

Dengan adanya pengawasan dari Satgas PKH, pemanfatan hasil tambang benar benar untuk kepentingan nasional.

Diketahui, mineral rare earth merupakan komoditas yang diproyeksikan permintaannya akan melonjak di tahun-tahun ke depan. 

Data International Energy Agency (IEA) menyebutkan, permintaan global rare earth magnet hampir dua kali lipat dalam satu dekade sejak 2015 hingga menembus 90 kiloton pada 2024. 

Permintaan ini diproyeksikan terus meningkat hingga melampaui 120 kiloton pada 2030 dan mencapai 180 kiloton pada 2050, didorong oleh perkembangan kendaraan listrik dan turbin angin.

Dalam rantai pasok global, China masih menjadi pemain dominan dengan menyumbang sekitar 57% permintaan rare earth magnet dunia pada 2024. 

Meski demikian, pangsa tersebut diperkirakan menurun menjadi sekitar 50% pada 2050 seiring masuknya pemain baru seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Di tengah lonjakan permintaan tersebut, Indonesia berada di posisi strategis karena cadangan tanah jarang yang melimpah. 

Mengacu pada Booklet ESDM 2020, potensi logam tanah jarang di Indonesia tersebar luas di berbagai wilayah, baik sebagai mineral utama maupun produk sampingan dari pengolahan mineral lain. (aag)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Video: Demi Elektrifikasi 100%, Pembangkit Nuklir - PLTB Dipercepat
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Harga Minyak Melonjak Usai Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran
• 13 jam lalukatadata.co.id
thumb
Difitnah Jadi Bohir Ijazah Jokowi, Kubu JK Bawa Bukti Video Laporkan Rismon dan 4 Akun ke Bareskrim
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Kronologi Dugaan Penganiayaan Tuan Rumah saat Hajatan di Purwakarta
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Bos OJK Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah ke 3 Kanal Utama Sektor Jasa Keuangan RI
• 11 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.