Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut opsi impor minyak mentah dari Rusia masih terbuka. Indonesia kini mengantisipasi seluruh sumber pasokan selain dari Timur Tengah.
Bahlil memastikan importasi tersebut belum dilakukan. Namun, pemerintah membuka semua opsi sumber impor untuk menggantikan sekitar 20 persen pasokan yang melewati Selat Hormuz. Jalur logistik tersebut masih diblokade Iran sebagai langkah retaliasi serangan AS dan Israel.
"Kalau sudah jadi saya akan kabari ya, tapi sekarang adalah kita dalam kondisi seperti ini selalu membuka opsi dari negara mana saja. Karena hari ini kan kita harus negara, pemerintah harus menjamin ketersediaan BBM," tegasnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Senin (6/4).
Saat ini, menurutnya, semua negara berebut pasokan yang tersedia selain dari Timur Tengah, termasuk dari Rusia. Hal ini menyebabkan harga minyak yang tersedia melambung tinggi.
"Jadi jangan kita milih-milih sekarang. Kita dari negara mana aja yang penting ada, itu pun kita masih harus berebut dengan negara lain. Bayangkan sekarang ini orang sudah melakukan tender aja barangnya sudah ada, tapi ketika ada orang lain yang membeli dengan harga lebih tinggi, orang itu atau trader itu atau perusahaan yang menjual itu bisa berpotensi menjual ke orang yang menawar lebih tinggi," ungkapnya.
Oleh karena itu, dia memastikan bahwa segala upaya yang pemerintah kerahkan demi menjamin ketersediaan bahan bakar di Indonesia, kendati saat ini kondisi cadangan BBM masih sesuai dengan standar nasional.
"Sekarang ini stok kita masih dalam taraf stok minimum nasional. Jadi Insyaallah clear," kata Bahlil.
Sebelumnya, Duta Besar Rusia untuk RI, Sergei Tolchenov, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum mendapat permintaan resmi baik dari Pertamina maupun Kementerian ESDM terkait pembelian minyak dari Rusia.
"Saya sebagai Duta Besar tidak mendapat permintaan langsung dari Pertamina, dari Kementerian ESDM Indonesia. Jadi mungkin dapat didiskusikan lewat jalur B2B. Tapi saya tidak punya informasi soal itu," kata Sergei di sela acara kunjungan tiga kapal perang Armada Pasifik Angkatan Laut Federasi Rusia di Pelabuhan Tanjung Priok, dikutip Rabu (1/4).
Sergei mengatakan, pemerintah Rusia dapat menjual minyak mereka ke Indonesia. Ia mengatakan, Presiden Rusia Vladimir Putin sering mengatakan bahwa Rusia siap bekerja sama dengan negara mitra di bidang minyak dan gas (migas).
"Jika mereka membutuhkan sesuatu, silakan hubungi kami, beri tahu apa yang Anda butuhkan, dan kami akan mendiskusikan apa yang dapat dilakukan. Bahkan bagi mereka yang kami sebut sebagai negara yang tidak bersahabat, sebagai contoh dari Eropa Barat, jika mereka tertarik, jika mereka siap untuk bekerja sama berdasarkan kontrak jangka panjang dengan kami, bahkan kami siap memasok untuk mereka, untuk menjual minyak dan gas," ujarnya.
Rusia, kata Sergei, menjual minyak ke negara-negara sahabat seperti China dan India. Bahkan, Rusia baru-baru ini menjual minyak ke Filipina. "Jadi jika Indonesia membutuhkannya, beri tahu kami dan Anda akan memilikinya," tuturnya.





