BRIN Dorong Standarisasi Steker Motor Listrik

medcom.id
7 jam lalu
Cover Berita
DKI Jakarta: Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eka Rakhman Priandana, mendorong adanya standarisasi steker dan soket (plug and socket) untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik roda dua di Indonesia.
 
Menurut Eka, salah satu hambatan utama dalam pengembangan kendaraan listrik, baik secara global maupun di Indonesia, adalah keterbatasan infrastruktur pengisian daya. Selain itu, harga baterai yang masih tinggi dan kekhawatiran pengguna terhadap jarak tempuh atau range anxiety juga menjadi faktor yang memperlambat adopsi teknologi ini.
 
"Di Indonesia, tantangan tersebut diperparah oleh masih terbatasnya investasi pada infrastruktur penukaran baterai maupun pengisian cepat," kata Eka dikutip dari Antara. Model Battery Swapping Hadapi Tantangan Eka menilai model bisnis battery swapping yang saat ini mulai berkembang juga menghadapi sejumlah kendala. Beberapa di antaranya adalah kebutuhan investasi yang cukup besar serta skema pembagian keuntungan dengan penyedia listrik. Baca Juga:
Daftar Harga Mobil Listrik Wuling per April 2026
Di sisi lain, perkembangan teknologi kendaraan listrik roda dua mulai bergeser ke arah penggunaan baterai tertanam dengan kapasitas lebih besar atau long range. Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap infrastruktur fast charging menjadi semakin penting.

"Interoperabilitas menjadi kunci. Tanpa standar plug dan socket yang seragam, ekosistem pengisian daya tidak akan berkembang optimal," kata Eka. BRIN Inisiasi Standar Nasional Steker Kendaraan Listrik Untuk mengatasi persoalan tersebut, BRIN menginisiasi pengembangan standar nasional Indonesia (SNI) untuk steker dan soket pengisian cepat kendaraan listrik roda dua. Desain standar tersebut mengacu pada standar internasional IEC 62196-6, namun disesuaikan dengan karakteristik penggunaan di Indonesia.
 
Standardisasi ini diharapkan memberikan sejumlah manfaat strategis, mulai dari meningkatkan kompatibilitas antar perangkat hingga mendorong investasi pada infrastruktur pengisian kendaraan listrik. "Selain itu, pendekatan ini juga memungkinkan produsen kendaraan untuk berinovasi tanpa harus menyeragamkan desain baterai," ujarnya. BRIN Kembangkan Prototipe Fast Charging SONIK R2 Selain pengembangan standar, BRIN juga mengembangkan prototipe stasiun pengisian cepat untuk kendaraan listrik roda dua bernama SONIK R2. Teknologi ini memiliki kapasitas pengisian hingga 6,6 kW dan mampu mempercepat proses pengisian baterai secara signifikan. Bahkan, pengisian baterai berbasis LiFePO4 dapat dilakukan dalam waktu sekitar 20 menit. Baca Juga:
Estimasi Pajak Toyota Innova Reborn Berdasarkan Tahun Produksi
Dalam sistem ini, proses pengisian memanfaatkan teknologi electric vehicle charge controller (EVCC) yang berfungsi menjembatani berbagai protokol komunikasi baterai dari beragam produsen. Dengan sistem tersebut, kendaraan dari berbagai merek tetap dapat menggunakan infrastruktur pengisian yang sama tanpa kendala kompatibilitas.
 
Saat ini, usulan standar steker dan soket tersebut sedang dibahas bersama Badan Standardisasi Nasional (BSN) melalui komite teknis terkait. BRIN juga berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian, asosiasi industri, serta mitra swasta untuk mempercepat implementasinya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MenPAN RB: Bayi WNI yang Lahir di RI Otomatis Terdaftar BPJS Kesehatan Aktif
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Sukses Turunkan Tingkat Kemiskinan dan Pengangguran, Begini Kinerja Apik Pemprov Jabar
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Tuntut Transparansi Kasus Andrie Yunus, Aliansi Mahasiswa Dirikan Tenda di Depan Komnas HAM
• 1 jam laludisway.id
thumb
Pramono Targetkan Tumpukan Sampah di Pasar Kramat Jati Bersih dalam Sepekan
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Agenda Padat Presiden, Investasi dan Respons Bencana Jadi Sorotan
• 23 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.