Bisnis.com, JAKARTA — PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) menargetkan produksi batu bara mencapai sekitar 50 juta ton pada 2026 atau meningkat 5,93% dibandingkan dengan realisasi produksi sepanjang 2025 yang sebesar 47,2 juta ton.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan target tersebut ditetapkan setelah perseroan memperoleh persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 pada 6 Maret lalu dari pemerintah tanpa adanya pengurangan volume produksi dari yang sebelumnya diusulkan.
Dengan disetujuinya RKAB pada 2026, menjadi amunisi perseroan untuk menggenjot kinerja pada 2026.
"Memasuki 2026 kami tetap optimistis. Berdasarkan RKAB pada 2026, kami menargetkan volume sekitar 50 juta ton," ujarnya, Senin (6/4/2026).
Arsal menyebut target kinerja yang lebih baik pada 2026 dapat dilakukan melalui peningkatan efisiensi serta optimalisasi portofolio bisnis berkelanjutan dengan mempertahankan fundamental yang kuat serta strategi yang adaptif berkelanjutan.
Perseroan berhasil meningkatkan volume produksi batu bara sebesar 9% secara tahunan menjadi 47,2 juta ton. Kenaikan produksi tersebut turut diikuti pertumbuhan volume penjualan sebesar 6% menjadi 45,4 juta ton.
Baca Juga
- Bukit Asam (PTBA) Catat Produksi Naik 9% jadi 47,18 Juta Ton Sepanjang 2025
- Bukit Asam (PTBA) Bukukan Laba Bersih Rp2,93 Triliun Sepanjang 2025
- Deretan Pelanggan Kakap Emiten Batu Bara RI AADI, PTBA, BUMI Cs
Capaian positif tersebut mencerminkan keberhasilan strategi adaptif perusahaan dalam menjaga kesinambungan pasokan energi, baik untuk pasar domestik maupun internasional.
“Capaian positif pada sisi hulu dan hilir ini mencerminkan keberhasilan strategi adaptif perusahaan dalam menjaga kesinambungan pasokan energi,” imbuhnya.
Seiring dengan peningkatan produksi, volume angkutan batu bara juga mengalami kenaikan sebesar 6% dari 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton sepanjang 2025.
Dari sisi pasar, PTBA tetap mengutamakan kebutuhan dalam negeri dengan alokasi 54% dari total penjualan untuk pasar domestik. Peran ini menegaskan posisi perseroan sebagai salah satu pilar utama dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Sementara itu, ekspansi ke pasar global juga terus diperkuat. PTBA mencatatkan porsi ekspor sebesar 46% sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasar untuk meningkatkan daya saing di tingkat internasional.
Selain mempertahankan pangsa pasar di kawasan Asia seperti Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina, perseroan juga mulai menjajaki pasar baru di Eropa.
“PTBA juga berhasil melakukan penetrasi pasar baru ke benua Eropa, yakni ke Spanyol dan Rumania,” kata Arsal.
Kinerja 2025 di tengah Tantangan Harga Batu BaraDi sisi kinerja keuangan, PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun pada 2025, turun 42,6% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,1 triliun. Penurunan ini terjadi di tengah melemahnya harga batu bara global.
Perseroan mencatat EBITDA sebesar Rp6,08 triliun dengan margin 14% sepanjang 2025. Meski laba tertekan, PTBA mencatat perbaikan profitabilitas secara kuartalan yang didorong oleh optimalisasi portofolio ekspor serta efisiensi biaya.
Dari sisi operasional, kinerja perusahaan tetap solid. Produksi batu bara tumbuh 9% secara tahunan, diikuti peningkatan penjualan sebesar 6%.
Namun demikian, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) turun 6% secara tahunan seiring penurunan harga batu bara acuan global. Tercatat, Newcastle Coal Index melemah hingga 22%, sementara Indonesia Coal Index-3 turun 16%.
Sepanjang 2025, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp42,65 triliun, naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, beban pokok pendapatan juga meningkat 5% menjadi Rp36,39 triliun, seiring dengan kenaikan volume operasional.
Meski demikian, efisiensi tetap terlihat dari penurunan stripping ratio menjadi 6,07 kali dari sebelumnya 6,23 kali. Selain itu, volume angkutan batu bara juga meningkat 6% dari 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton.
Dengan kinerja tersebut, PTBA tetap akan menjaga ketahanan energi nasional, terutama melalui pasokan ke pasar domestik yang mencapai lebih dari separuh total penjualan.
Ke depan, perseroan akan terus mengkombinasikan strategi efisiensi biaya dengan ekspansi pasar global guna menjaga kinerja di tengah volatilitas harga komoditas.





