Pemerintah mendorong program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai langkah preventif untuk menekan berbagai penyakit, mulai dari tuberkulosis hingga diabetes dan hipertensi.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, CKG menjadi strategi penting dalam mendeteksi dini penyakit sekaligus mencegah komplikasi yang lebih berat.
Menurutnya, banyak warga yang tidak menyadari kondisi kesehatannya, terutama penyakit tidak menular yang berisiko tinggi memicu penyakit lain.
“Melalui CKG kita ingin menemukan kasus TB, tapi juga mencegah penyakit katastropik seperti serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal,” kata Benny dalam Konferensi Pers Hari TB Sedunia 2026 di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Senin (6/4).
Benny menjelaskan, penyakit seperti diabetes dan hipertensi yang tidak terkontrol dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga meningkatkan risiko seseorang terinfeksi TB.
Selain itu, komplikasi dari penyakit tersebut juga menjadi beban besar dalam pembiayaan kesehatan nasional.
“Serangan jantung, stroke, hingga cuci darah itu biayanya sangat besar dan berdampak pada kualitas hidup masyarakat. Padahal ini bisa dicegah jika terdeteksi lebih awal,” ujarnya.
Benny menambahkan, mayoritas pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah disebabkan oleh diabetes dan hipertensi yang tidak terkontrol.
Karena itu, CKG tidak hanya berfungsi sebagai deteksi dini, tetapi juga sebagai sarana edukasi masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat.
Dalam pelaksanaannya, program ini akan melibatkan puskesmas, dinas kesehatan daerah, serta kader kesehatan untuk menjangkau masyarakat secara langsung.
Pemerintah berharap, melalui CKG, kasus penyakit dapat ditemukan lebih cepat sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum kondisi menjadi parah.
“Ini satu paket, mulai dari deteksi TB hingga pencegahan penyakit kronis. Kalau bisa dicegah dari awal, masyarakat tidak perlu sampai mengalami komplikasi berat,” kata Benny.





