Kebijakan kerja dari rumah (WFH) setiap Jumat bagi aparat sipil negara dan juga nantinya pekerja swasta, sejatinya tak hanya tentang penghematan energi. Entah pemerintah menyadari atau tidak, kebijakan ini diam-diam menghadirkan efek bonus psikososial yang luar biasa kuat bagi jutaan anak di Indonesia.
Nantinya, banyak anak pulang dari sekolah dan menemukan orang tua sudah ada di rumah, menunggu, menyambut, dan hadir duluan. Di balik momen yang tampak sederhana itu, tersimpan makna yang jauh melampaui apa yang selama ini kita bayangkan tentang kebijakan kerja.
Dalam ilmu perkembangan anak, momen pulang sekolah bukan sekadar jeda harian. Itu adalah titik krusial dalam siklus emosi anak, semacam window of vulnerability and opportunity. Anak datang dengan pengalaman yang masih mentah: konflik dengan teman, tekanan akademik, rasa bangga kecil, atau rasa kecewa yang belum sempat diproses.
Penelitian klasik dari psikiater ternama James Coan membuktikan, ketika anak pulang sekolah dan wajah pertama yang dilihatnya adalah wajah orang tua, yang terjadi bukan sekadar pertemuan. Secara biologis dan psikologis, itu adalah proses reset emosi, sebuah mekanisme yang terbukti menurunkan stres, membangun rasa aman, dan memperkuat fondasi mental anak.
Jika pada titik itu ada orang tua yang hadir secara utuh, yang mendengar tanpa menghakimi, maka yang terjadi bukan sekadar percakapan ringan. Yang terjadi adalah proses regulasi emosi, pembentukan rasa aman, dan penguatan identitas diri.
Data ilmiah global menunjukkan betapa besarnya peran momen-momen seperti ini. Analisis dari OECD secara konsisten menemukan bahwa keterlibatan orang tua dalam kehidupan sehari-hari anak, termasuk percakapan sederhana selepas pulang sekolah, berkorelasi dengan peningkatan kemampuan kognitif, kesejahteraan psikologis, dan keterlibatan belajar anak.
Lebih dalam lagi, studi ekonomi pendidikan di Eropa menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja orang tua, termasuk kerja dari rumah, berkaitan dengan peningkatan capaian akademik anak hingga sekitar 0,2 standar deviasi, angka yang dalam dunia pendidikan dianggap signifikan. Bahkan, beberapa penelitian menyimpulkan bahwa kebijakan kerja fleksibel memberikan “large gains to children” tanpa menurunkan produktivitas orang tua secara berarti.
Ini adalah temuan yang seharusnya mengubah cara kita memandang kebijakan publik bahwa pengaturan kerja orang dewasa dapat menjadi intervensi tidak langsung terhadap kualitas generasi berikutnya. Jadi, betapa beruntungnya anak-anak Indonesia karena setiap Jumat akan mendapati rutinitas baru yang membahagiakan, ketika pulang sekolah disambut oleh wajah familiar orangtuanya.
Namun, yang membuat kebijakan WFH Jumat menjadi menarik bukan hanya karena data, tetapi juga karena makna filosofisnya. Selama ini, banyak keluarga modern hidup dalam situasi dilematis yang tidak disadari pada saat orang tua bekerja untuk masa depan anak, tetapi kehilangan momen-momen kecil yang justru membentuk masa depan itu sendiri. Rumah tetap ada, tetapi sering kali kosong pada waktu-waktu yang paling penting. Anak pulang, tetapi tidak selalu ditemui.
Ketika WFH, meskipun hanya seminggu sekali, membuka kemungkinan orang tua berada di rumah pada saat anak pulang sekolah, yang sesungguhnya sedang dipulihkan bukan sekadar waktu kebersamaan, melainkan makna kehadiran. Kehadiran bukan hanya soal berada di tempat yang sama, tetapi tentang being available, tersedia secara emosional, mental, dan relasional. Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang tinggal serumah. Anak membutuhkan seseorang yang benar-benar ada ketika dunia kecilnya sedang diceritakan.
Dan di sinilah momen WFH di hari Jumat itu menjadi sangat penting, bukan sekadar hari kerja yang dipindahkan ke rumah. Justru hari ini menjelma menjadi ruang di mana relasi yang lama terfragmentasi mendapat kesempatan untuk disusun kembali. Dalam beberapa menit pertama setelah anak pulang dari sekolah, ada peluang untuk membangun sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, tidak bisa didelegasikan kepada institusi, dan tidak bisa ditunda, yaitu keterhubungan.
Secara medis, momen seperti ini adalah faktor pelindung yang dapat menurunkan risiko gangguan mental, meningkatkan resiliensi, dan memperkuat fungsi sosial anak di masa depan. Karena itu, WFH Jumat perlu dibaca lebih dari sekadar kebijakan efisiensi. Peluang untuk mengembalikan keluarga sebagai ruang pertama dan paling fundamental dalam membentuk manusia bisa dicapai dengan bonus sehari ini saja. Dalam satu hari itu, negara secara tidak langsung memberi kesempatan kepada orang tua untuk hadir pada momen yang selama ini hilang.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah kebijakan ini efektif secara ekonomi, tetapi apakah momen ini akan dimanfaatkan secara utuh? Karena pada akhirnya, yang akan diingat anak bukan seberapa sibuk orang tua bekerja, tetapi apakah di antara kesibukan itu pernah ada satu hari, di hari Jumat, ketika mereka pulang, orang tua sudah nyampe duluan dan membukakan pintu rumah sambil menyambut dengan pelukan hangat.




