Kisah Pilu Pengungsi Lebanon Kehilangan Rumah Akibat Perang

detik.com
8 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Fatme, seorang ibu di Lebanon, berusaha menjalani hidup senormal mungkin di tenda darurat, kasur yang ditumpuk, dan ratusan keluarga lain yang tinggal berdekatan.

Ia kini menetap di bangunan Azarieh, kawasan pusat bisnis Beirut yang berubah fungsi menjadi tempat penampungan bagi warga yang mengungsi. Sekitar 250 keluarga tinggal di sana dalam tenda-tenda seadanya. Saluran air sebenarnya tersedia, begitu juga dapur umum dan bantuan dari organisasi kemanusiaan. Namun, ruangannya sangat terbatas, ketenangan dan privasi nyaris tidak ada.

Sebagian besar waktu Fatme dan keluarganya dihabiskan di dalam tenda. Bahkan untuk pergi ke kamar mandi pun terkadang ia enggan.

"Harus antre dan semua orang melihat," ujarnya. "Saya malu."

Di dalam tenda, ia duduk di antara tas, selimut, dan sedikit barang yang sempat dibawa saat melarikan diri. Ia tinggal bersama suami, anak perempuannya yang berusia tujuh tahun, serta ibunya, berbagi ruang sempit yang ada.

Suaminya, seorang tukang kayu, mencoba membantu penghuni lain dengan memperbaiki dan membuat berbagai kebutuhan tenda sederhana. Karena itulah, Fatme dan keluarganya mendapat dua tenda untuk berteduh.

Di siang hari, Fatme berusaha menjalani rutinitas seperti biasa. Saat malam tiba, semuanya terasa jauh lebih berat.

"Ledakannya sangat keras," katanya kepada DW. "Banyak orang di sini ketakutan dan tidur tanpa berganti pakaian."

Konflik meluas di Lebanon

Konflik kini meluas ke berbagai wilayah di Beirut. Israel memperluas sasaran serangannya dan mulai membom area yang berada di luar wilayah yang dikenal sebagai basis pendukung kelompok Lebanon, Hizbullah, termasuk kawasan pusat kota. Terkadang serangan datang tanpa peringatan.

Hizbullah memiliki sayap militer dan politik, berperan penting dalam masyarakat dan politik Lebanon, serta menentang Israel. Kelompok yang bersekutu dengan Iran ini dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat (AS), Jerman, dan beberapa negara mayoritas Sunni. Uni Eropa menganggap sayap bersenjatanya sebagai organisasi teroris.

Di tengah serangan udara yang terus berlangsung, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan rencana pembentukan zona penyangga di Lebanon selatan hingga Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan. Israel juga disebut akan menghancurkan permukiman di wilayah perbatasan.

Sebagai respons, Menteri Pertahanan Lebanon Michel Menassa menilai pernyataan tersebut menunjukkan "niat jelas Israel untuk melakukan pendudukan baru atas wilayah Lebanon, memaksa ratusan ribu warga mengungsi, serta menghancurkan desa dan kota di selatan secara sistematis."

Pernyataan bersama yang ditandatangani menteri luar negeri dari 10 negara Eropa, bersama diplomat tertinggi Uni Eropa Kaja Kallas, mendesak Israel menghormati integritas wilayah Lebanon.

Tak ada tempat yang aman

Bagi warga Lebanon yang terdampak serangan Israel, rasa aman kini nyaris hilang. Mengungsi tidak serta-merta memberikan perlindungan yang cukup bagi mereka saat ini.

"Kami pergi dari rumah, tapi kami tahu tidak ada tempat yang benar-benar aman, tapi memang tak ada lagi yang bisa kami lakukan," jelas Fatme.

Dahiyeh, yang dalam bahasa Arab berarti "pinggiran kota", merupakan kawasan luas di Beirut yang ukurannya hampir menyamai pusat kota. Dalam beberapa dekade terakhir, wilayah ini berkembang pesat akibat arus migrasi dan pengungsian. Banyak orang tinggal di sini karena biaya hidup yang lebih terjangkau, sementara lainnya datang akibat perang, krisis politik, atau minimnya dukungan negara di daerah asal mereka.

Bagi sebagian pengamat luar, Dahiyeh kerap dipandang semata sebagai basis Hizbullah. Namun bagi warganya, kawasan ini adalah lingkungan hidup yang normal dan dinamis, dengan toko, restoran, dan aktivitas sehari-hari. Lebih dari itu, tempat ini adalah rumah bagi mereka.

"Kami punya kehidupan keluarga yang normal di sana. Anak saya sekolah, suami saya bekerja sebagai tukang kayu, dan saya mengurus rumah. Hidup kami baik," ujar Fatme.

Ia menambahkan, saat itu keluarganya merasa aman dan stabil, sesuatu yang kini perlahan hilang.

Gencatan senjata yang tak benar-benar ada

Eskalasi konflik meningkat sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dan menewaskan pemimpin tertingginya, Ayatullah Ali Khamenei.

Hizbullah yang didukung Iran kemudian ikut terlibat pada awal Maret, dengan melancarkan serangan roket dan drone ke wilayah Israel, yang dibalas dengan serangan udara. Sejak itu, kekerasan di Lebanon terus meningkat.

Setelah pertempuran pecah, Fatme dan keluarganya langsung pergi dengan mobil. Mereka sempat kembali dua kali dan bertahan selama dua malam, tetapi situasi yang semakin berbahaya membuat mereka harus kembali meninggalkan rumah.

"Kami sangat takut," kata Fatme. Ia menegaskan keputusan itu diambil demi anaknya.

"Butuh lima tahun bagi saya untuk bisa hamil," ujarnya. "Dan anak saya masih trauma akibat perang pada 2024. Ia sering takut, bahkan untuk pergi sendiri. Setiap ada suara keras, dia langsung menutup telinganya."

Meski gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah disepakati pada November 2024, kekerasan tidak benar-benar berhenti. Serangan dan ledakan terus terjadi, menambah ketidakpastian.

Menurut UNIFIL dan pemerintah Lebanon, hingga Februari 2026 tercatat lebih dari 15.400 pelanggaran gencatan senjata, dengan lebih dari 370 orang tewas akibat serangan Israel.

"Serangan yang terus berlanjut tidak hanya menghancurkan rumah dan infrastruktur, tetapi juga merusak fondasi kehidupan sehari-hari dan pemulihan," ujar Jeremy Ristord dari Doctors Without Borders dalam sebuah pernyataan pada Februari lalu.

Itulah sebabnya putri Fatme masih diliputi ketakutan. Ledakan dan suara keras tak pernah benar-benar berhenti, begitu pula rasa takutnya. Bagi Fatme dan keluarganya, mereka harus pergi dari tempat tinggalnya.

Mereka hanya membawa barang seperlunya. Saat meninggalkan rumah, mereka bahkan belum tahu akan ke mana, yang penting pergi terlebih dulu.

Di jalan, mereka terjebak kemacetan panjang karena banyak warga lain melakukan hal yang sama. Mereka sempat tidur di dalam mobil, sebelum akhirnya menemukan tempat di gedung Azarieh yang kini menjadi penampungan bagi para pengungsi.

"Saya sangat merindukan rumah saya. Kehidupan saya, barang-barang saya, rutinitas saya. Sebulan lalu semuanya masih terasa berbeda. Hidup kami sekarang benar-benar terbalik," kata Fatme.

Di tempat pengungsian pun, Putri Fatme masih sering menangis tiap saat mendengar suara keras. Setiap kali itu terjadi, Fatme memeluknya erat.

"Di saat seperti itu, saya melupakan rasa takut saya sendiri dan mencoba menenangkannya," tambahnya.

Masa depan yang tak pasti

Situasi di Lebanon diperkirakan belum akan membaik dalam waktu dekat. Dalam rapat Dewan Keamanan PBB pada 31 Maret, Koordinator Bantuan Darurat PBB Tom Fletcher menyebut setidaknya 1.240 orang tewas dan 3.500 lainnya terluka, termasuk perempuan, anak-anak, dan petugas penyelamat.

Jumlah pengungsi pun telah melampaui 1,1 juta orang, dengan ratusan ribu di antaranya adalah anak-anak.

"Siklus pengungsian paksa sedang terjadi," kata Fletcher. "Pengungsian bukan solusi, melainkan pilihan terakhir yang menyakitkan untuk mempertahankan martabat."

Di tengah situasi sulit ini, Fatme masih menemukan secercah harapan saat melihat anak-anak bermain. Ketika putrinya ikut tertawa dan tampak tenang, meski hanya sesaat, ia merasa semuanya mungkin akan baik-baik saja.

"Saat melihat dia bermain, saya merasa semuanya akan baik-baik saja," ujarnya.

Namun, harapan itu sering kali tak bertahan lama. Suara drone di atas langit Beirut dan ledakan dari kejauhan kembali mengingatkan Fatme pada sebuah kenyataan, bahwa hidup mereka kini hanya tersisa sebagai keluarga yang bertahan di antara dua tenda dan kondisi serba sementara.

"Kami bukan yang pertama, dan tidak akan menjadi yang terakhir yang harus pergi," kata Fatme. "Kami hanya bisa bertahan. Dan saya ingin orang-orang tahu, kami pernah hidup dengan baik dan bermartabat."

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu

Editor: Hani Anggraini

width="1" height="1" />




(ita/ita)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bahlil Ungkap Hasil Uji Coba B50, Pemerintah Siap Terapkan Mulai 1 Juli 2026
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Harga Plastik-Kedelai Naik, Pramono Pastikan Inflasi Jakarta Terjaga Baik
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Astra Sedaya (ASDF) Terbitkan Obligasi Rp1,03 Triliun, Bunga hingga 5,95%
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Beban RS Meningkat, Thailand Berencana Wajibkan Asuransi bagi Turis Asing
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Penasihat Kapolri Soroti Pengungkapan Kasus Pembunuhan WN Ukraina di Bali
• 13 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.