EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Sabtu (4 April) menyatakan bahwa dalam serangan besar terhadap ibu kota Iran, Teheran, “banyak” pemimpin militer Iran telah tewas.
Menurut laporan AFP, Trump menulis di platform media sosialnya, Truth Social: “Banyak pemimpin militer Iran, yang selama ini memimpin secara tidak kompeten dan bodoh, kini telah diakhiri dalam serangan besar di Teheran, dan masih ada banyak kerugian besar lainnya!”
Unggahan tersebut disertai sebuah video yang memperlihatkan kilatan ledakan di langit malam, namun tidak menjelaskan waktu pasti dari operasi militer tersebut.
Pada 3 April, setelah Iran menembak jatuh pesawat tempur F-15 milik AS dan rudal menghantam pesawat A-10, militer AS mengerahkan helikopter Black Hawk serta pesawat pencarian dan penyelamatan tempur HC-130J untuk operasi penyelamatan di ketinggian rendah.
Pada malam hari yang sama, militer AS mulai melakukan pemboman besar-besaran terhadap Teheran dan berbagai kota lain di Iran, menargetkan infrastruktur. Dilaporkan pula bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan pengerahan pasukan darat untuk semakin melemahkan kemampuan militer Iran.
Menurut sejumlah media Iran, serangan udara yang dilancarkan oleh AS dan Israel menghantam berbagai fasilitas di wilayah selatan dan barat daya Iran, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir, pabrik semen, pusat petrokimia, serta pos perdagangan perbatasan.
Wilayah yang dilaporkan terkena serangan antara lain:
- Sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir di Bushehr.
- Pos perdagangan di perbatasan Shalamcheh, dekat Khorramshahr, Provinsi Khuzestan.
- Tiga perusahaan di Kawasan Khusus Petrokimia Mahshahr, Iran barat daya.
- Pabrik semen di kota pelabuhan Bandar Khamir, Provinsi Hormozgan.
Sebelumnya, Trump mengeluarkan ultimatum kepada pemerintah Teheran agar dalam waktu 48 jam membuka Selat Hormuz, jika tidak maka fasilitas energi Iran berpotensi menjadi sasaran serangan.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menulis:
“Ingat ketika saya memberi Iran 10 hari untuk mencapai kesepakatan atau membuka Selat Hormuz?” merujuk pada ultimatum yang dikeluarkan pada 26 Maret.
Ia menambahkan: “Waktu hampir habis. Dalam 48 jam, neraka akan turun menimpa mereka.”
Sumber : NTDTV.com





