EtIndonesia. Memasuki tahun kelima perang antara Rusia dan Ukraina, tekanan fiskal Rusia terus meningkat. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini secara tidak biasa turun tangan langsung untuk meminta dana dari kalangan orang kaya.
Menurut laporan New York Post, pada 2 April, Putin secara pribadi bertemu dengan sejumlah taipan bisnis dalam negeri. Ia mengakui bahwa situasi ekonomi saat ini sangat berat, namun menegaskan bahwa operasi militer tidak akan dihentikan, dan pasukan Rusia akan terus maju hingga sepenuhnya menguasai wilayah Donbas.
Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa ini adalah pertama kalinya sejak perang dimulai Putin secara langsung meminta dukungan dana dari kalangan dunia usaha. Sejumlah miliarder dilaporkan telah menyatakan dukungan. Di antaranya, miliarder Suleiman Kerimov berjanji akan menyumbangkan lebih dari 1,2 miliar dolar AS.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengkonfirmasi bahwa dalam pertemuan tersebut memang ada pihak yang “secara sukarela” menawarkan dukungan dana bagi negara.
Namun, berdasarkan data, defisit anggaran Rusia terus melebar seiring meningkatnya intensitas perang. Pada tahun 2025 saja, anggaran pertahanan Rusia meningkat sebesar 42%. Di saat yang sama, nilai tukar rubel terus melemah, yang semakin memperburuk tekanan ekonomi negara tersebut.
Untuk menutup kekurangan anggaran, pemerintah Rusia telah mengambil sejumlah langkah. Salah satunya adalah menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 22%, yang diperkirakan akan menarik tambahan sekitar 7,4 miliar dolar AS dari usaha kecil dan menengah dalam tiga tahun ke depan.
Selain itu, Menteri Pembangunan Ekonomi, Maxim Reshetnikov, menyatakan bahwa setelah sebelumnya memberlakukan pajak keuntungan luar biasa sebesar 10% terhadap perusahaan besar, pemerintah kini sedang mempertimbangkan kemungkinan kenaikan pajak lebih lanjut. (Hui)
Sumber : NTDTV.com





