Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti maraknya praktik joki dalam penggunaan sistem Coretax yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Ia mengakui, kemunculan jasa perantara tersebut tidak lepas dari celah dalam desain sistem yang membuatnya sulit diakses oleh masyarakat umum.
Fenomena ini bahkan terlihat dari tawaran jasa yang beredar di platform Threads, salah satunya dari akun @ridecush9 yang membuka layanan pengurusan Coretax hingga pelaporan SPT Tahunan, baik untuk individu maupun badan usaha, dengan tarif bervariasi.
Menanggapi hal tersebut, Purbaya menyebut praktik joki muncul karena adanya peluang dalam sistem yang belum sepenuhnya sempurna.
“Itu kalau ekonomi kan kalau ada kesempatan pasti ada yang masuk ke situ. Tapi ke depan kita betulin sehingga Coretax gak perlu pakai joki lagi. Kan desainnya agak cacat rupanya,” ujar Purbaya kepada wartawan di kantornya, Senin (6/4).
Ia menjelaskan, desain Coretax saat ini dinilai masih terlalu kompleks bagi pengguna awam. Sehingga membuka ruang bagi pihak ketiga untuk menjadi perantara.
“Desain agak sulit dipakai orang biasa. Sehingga ada joki atau software interface yang bisa mengubah coretax dengan orang-orang. Sekarang terlalu cepat, terlalu pendek waktunya kita betulin,” lanjutnya.
Purbaya juga mengaku baru mengetahui adanya celah dalam sistem tersebut dalam waktu relatif singkat, yakni kurang dari satu bulan terakhir. Celah ini memungkinkan pihak tertentu masuk di antara sistem dan pengguna, sehingga memunculkan praktik bisnis baru.
“Karena saya baru tahu sebulan yang lalu, kurang dari sebulan lah. Bahwa ada ruang untuk orang masuk di tengah Coretax ke sana. Jadi seperti Coretax diciptakan kelemahan supaya ada bisnis di tengah. Nanti saya beresin,” tegasnya.
Ke depan, Kementerian Keuangan berkomitmen untuk memperbaiki sistem Coretax agar lebih sederhana dan mudah digunakan, sehingga tidak lagi membutuhkan jasa joki dalam pelaporan pajak.





